Masa Muda sebelum Masa Tua
(Sumber foto: Wikipedia.com)
Waktu terus berputar ke depan hingga tidak terasa senja telah tiba bagi seorang gadis di masanya. Aku yang masih berada di waktu pagi, aku yang kadang lupa bahwa senja menjadi kemungkinan masa depanku, sekarang mencoba memperhatikan perubahan kualitas ingatan dan sikap gadis tersebut. Keadaan itu membuatku ingat kembali akan makna “setiap detik” waktu. Aku merasa harus segera bersiap berbenah diri sebab ada ungkapan familiar yang menyatakan kepastian usia setiap makhluk tidak ada yang mengetahui kecuali Sang Khalik.
Aku tertarik bercerita dari dua sisi tentang kebijaksanaan senja yang memberikan pelajaran berharga. Cerita ini semata-mata “cambuk” bagi hidupku; masa tua memberi pembuktian bahwa kemampuan akan benar-benar kembali kepada titik lemah. Dimana sering kali segala aktivitas yang ingin dilakukan perlu bantuan orang karib seperti hanya sekedar berjalan menuju suatu tempat atau menulis untaian do’a yang pernah di luar kepala. Sebenarnya, disini ada peluang mendapatkan pahala kebaikan jika mau membantu dengan ikhlas.
Dari dua sisi, senja mengajarkan perihal salat; sebaiknya di masa muda ketika mendengar adzan berkumandang haruslah begegas melaksanakan salat. Sebab di masa tua diri sudah tidak ingat pergantian waktu yang sedang terjadi, tidak menghiraukan apakah salat yang akan dilaksanakan sudah tepat waktu atau terlalu awal atau bahkan bukan pada waktunya. Untuk dirinya, hal ini tidak menjadi masalah. Tentu, Tuhan Maha Pengasih, Dia menghendaki ‘azimah bersama rukhshah. Apalagi kepada hamba-Nya yang udzur. Tapi, kepedulian dari orang karib untuk mengingatkannya sekali lagi begitu diharapkan.
Ini sisi lainnya, senja mengajarkan perihal rasa perhatian; di masa tua, rasa perhatian khususnya dari anak-anak, cucu dan keluarga sangat dibutuhkan karena disini teman sepermainan, teman sebaya bahkan sahabat karib sudah tidak berperan penting lagi. Dengan melihat fakta, saya pikir rasa perhatian mahal harganya. Para lansia sering merasakan kesepian, duduk sendirian tidak ada teman bercengkrama karena anak dan cucu terlalu asyik dengan kesibukan dunia mereka masing-masing hingga “surga ditelapak kakinya” terabaikan.
Sekilas cerita ini mengajakku untuk merenungi sejenak sebuah sabda kekasih kita (Sayyiduna Muhammad SAW): “Gunakanlah lima kesempatan sebelum datang lima lainnya; Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, masa mudamu sebelum masa tuamu dan kayamu sebelum miskinmu”. (HR. Baihaqi)
Wallahu a'lam bil shawwab
Wallahu a'lam bil shawwab
