Sabtu, 28 Maret 2020

Cinta Haqiqi

Puncak Cinta Untuk Baginda Rasul
منتهى الحب لرسول الله صلى الله عليه وسلم

Foto: Bangkitmedia.com

Abu Sofyan bertanya kepada Zaid bin Datsinah RA ketika hendak membunuhnya,”Demi pujian Allah, wahai Zaid ! apakah engkau berhasrat jika Muhammad berada di posisimu sekarang dan kami memenggal lehernya sedangkan kamu merasa aman bersama keluargamu ? Zaid menjawab,”Demi Allah saya tidak rela jika ada sebuah duri pun yang melukai Baginda sementara saya bersenang-senang bersama keluarga ! Abu Sofyan berkata,”Sebelumnya saya tidak pernah melihat kebesaran bukti cinta seorang manusia kepada sesamanya seperti bukti cinta para sahabat Muhammad kepada Muhammad.

Sejarawan membenarkan riwayat ini,” Kaum Quraisy menahan seorang muslim di suatu perang, mereka melangkah penuh keberanian ingin membunuh orang-orang muslim, kaum Muslim ditanya.”Apakah engkau  rida jika selamat dari pembunuhan sedangkan keselamatan Rasul terancam ? mereka menjawab,”Tentu tidak, kami tidak akan bahagia hidup nyaman andaikata Rasul merasakan sakit.

(Tidak ada ampun bagi kalian jika Baginda Rasul terluka). Ada sebuah riwayat : Akhir hayat Sa’ad bin Rabi’ bin Amr bin Abu Zuhairi. Dia adalah pemimpin golongan Anshor yang berjumlah 12 orang dan seorang sahabat Rasul yang ikut serta dalam perang Badar danUhud. Dia mengakhiri hidupnya di perang Uhud sebagai syuhada. Sejarah mengabadikan peristiwa agung ini sebagai akhir hayat yang mulia.

Zaid bin Tsabit RA berkata,”Baginda mengutus saya di perang Uhud untuk mencari Sa’id bin Rabi’. Beliau berpesan,”Jika kamu menemukan Sa’id, sampaikan salamku untuknya dan tanyakan bagaimana keadaannya. Zaid menjawab,”Siap, saya akan mulai menelusuri dia diantara korban yang terbunuh”. Selanjutnya saya menghampiri Sa’id dalam keadaan sekarat. Di tubuhnya terdapat 70  luka. Terdiri dari luka tusukan tombak, pedang dan lemparan panah. Saya berkata kepadanya :”Wahai Sa’id ! Rasul menitipkan salam untukmu dan menanyakan keadaanmu.” Sa’id menjawab :”A’laa Rasulullah As-salaam, sampaikan pada Beliau,”Wahai Rasul saya telah mencium wangi surga” Dan sampaikan pada golonganku yakni Anshor,”Tidak ada ampun bagi kalian jika Baginda Rasul terluka, sedangkan kalian masih hidup nyaman.” Saat itu juga Sa’id menghembuskan nafas terakhirnya.

Penulis (Syaikh Musthafa) menyimpulkan bahwa cinta mendalam para sahabat RA kepada Baginda Rasul tidak akan ada bandingannya. Bahkan mereka rela jarang mengingat istri, anak-anak, harta dan kerabatnya. Wasiat pertama dan terakhir mereka kepada keluarganya adalah pengorbanan demi Baginda Rasulullah SAW.



Wallahu A'laam Bil Shawwab

DAFTAR BACAAN

Kamus Al-Munawwir 

Kamus Al-Muntashir

Nushus Al-'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam memuat teks Berbahasa Arab yang tertulis dalam kitab Shirah Al-Shabah karya Syaikh Musthafa Murad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar