Rabu, 22 April 2020

Siapakah Ulama Penyusun Shalawat Thibb al-Qulub?

Siapakah Ulama Penyusun Shalawat Thibb Al-Qulub?


Sumber: Infopena.com

Semenjak wabah virus Corona melanda Indonesia, para ulama nusantara menganjurkan beberapa bacaan yang sebaiknya perlu diamalkan oleh umat Islam sebagai bentuk upaya syari'at rohani memohon kepada Allah SWT agar kita semua bisa selamat dari penyakit dan wabah termasuk wabah Corona yang mengancam nyawa umat manusia. 

Sesuai instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama diantara bacaan amalan yang dimaksud ialah shalawat thibb al-qulub. Shalawat yang  berarti shalawat penawar hati berisi untaian kalimat-kalimat do'a harapan.

Lantas, siapakah ulama yang menyusun shalawat thibb al-qulub?

Shalawat ini disusun oleh al-Imam Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Hamid al-Adawi al-Mishri al-Azhari al-Maliki, terkenal dengan panggilan al-Dardir. Ia dilahirkan di perkampungan Bani 'Adi, salah satu suku Quraisy yang menempati Sha'id (dataran tinggi) Mesir, pada tahun 1127 H/1715 M. Dari segi sejarah, nasab al-Dardir bersambung kepada Sayyidina Umar bin Al-Khaththab RA, khalifah kedua umat Islam. Julukan al-Dardir diperoleh, ketika ada suku Arab singgah di perkampungan Bani 'Adi, pemimpin mereka terkenal sebagai ulama yang baik dan dipanggil al-Dardir. Syaikh al-Dardir dipanggil dengan julukan ulama tersebut karena bertujuan tafaul, yaitu berharap mendapatkan keberkahan dan kemuliaan seperti beliau.

Pada masa kecilnya, al-Dardir telah menghafal al-Qur'an dengan baik. Ia juga sangat rajin dalam menuntut ilmu. Lalu melanjutkan belajar ke al-Jami' al-Azhar dan rutin menghadiri perkuliahan para ulama besar. Menimba berbagai disiplin ilmu dan mulazamah (mengikuti pelajaran secara rutin dalam waktu yang lama) kepada Syaikh Ali al-Sha'idi al-'Adawi, ulama terkemuka madzhab Maliki. Disamping juga belajar kepada Syaikh Ahmad al-Shabbagh, al-Malawi dan al-Hifni. Dari al-Hifni, al-Dardir memperoleh tarekat tasawuf dan kemudian mengantarnya menjadi pembesar tarekat Khalwatiyah.

Setelah mencapai puncak dalam keilmuannya, al- Dardir mengajar di al-Azhar, dan menjadi guru besar ruwaq (asrama) para pelajar dari Sha'id, tempat asal kelahirannya. Di antara murid-muridnya yang sangat populer adalah Syeikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Arafah al-Dusuqi, dan Syeikh Abu al-'Abbas Ahmad bin Muhammad al-Shawi, penulis Hasyiyah al-shawi 'ala Tafsir al-Jalalain dan lain-lain.

Al-Dardir juga meninggalkan banyak karya kitab yang menjadi rujukan para ulama dan pelajar sampai saat ini. Antara lain Syarah Mukhtashar Khalil dan Aqrab al-Masalik li Madzhab al-Imam Malik, dalam bidang fikih Maliki. Al-Kharidah al- Bahiyyah fi 'ilm al-'Aqaid al-Daniyyah dalam bentuk nadham dan diberi syarah oleh beliau sendiri, dalam bidang ilmu tauhid. Kitab ini sangat populer di Nusantara dan menjadi kajian banyak pesantren.

Al-Dardir diberi julukan Syaikh al-Islam wa Barakah al-Anam (mendatangkan keberkahan kepada manusia), karena keunggulannya dalam berbagai bidang ilmu rasional dan tradisional. Beliau juga seorang sufi yang zuhud, berani berbicara benar kepada siapapun, selalu mencegah kemaksiatan dan kemungkaran. Beliau juga tidak takut kepada penguasa maupun tokoh. Hatinya bersih, jiwanya mulia dan budi pekertinya luhur. Setelah gurunya, Ali al-Sha'idi meninggal dunia, al-Dardir diangkat sebagai penggantinya sebagai guru besae Madzhab Maliki.

Al-Dardir R.A wafat pada tanggal 6 Rabi'ul awal 1201 H/ 27 Desember 1786 M, setelah sakit selama beberapa hari.

Demikianlah riwayat singkat ulama yang begitu berjasa mewariskan shalawat thibbil qulub yang tentu memiliki banyak nilai kebermanfa'at disebabkan oleh barakah penyusunnya. Mari kita terus membaca dan mendawamkannya!

Tabaarakallahu lahu wa lana, Aamiin..

Wallahu 'alaam.


Sumber literatur
Buku Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer (Nariyah, Munjiyat, Fatih, Thibb al-Qulub dan Istighatsah halaman 172, penulis Muhammad Idrus Ramli.

Rabu, 08 April 2020

Sayyidah Nafisah Cicit Rasul Guru Imam Syafi'i

Sayyidah Nafisah binti Hasan
Foto: Pecihitam.com

Sayyidah Nafisah binti Hasan merupakan perempuan takwa nan shalehah. Perempuan ahli ibadah yang zuhud,  Beliau juga ulama perempuan ahli tafsir dan hadis; Sayyidah Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib berasal dari keturunan Rasulullah SAW (bani Hasyim suku Quraisy)

Beliau dilahirkan di kota Mekkah pada tahun 145 H. Kemudian beliau pindah ke Madinah dan semasa  hidup beliau dipandang sebagai perempuan baik yang suci. Ia menikah dengan Ishaq Al-Mu’tamin. Suaminya merupakan putra dari Imam Ja’far as-shidiq.

Selanjutnya beliau berangkat ke Kairo, Mesir dan menetap disana sampai menghembuskan nafas terakhir pada tahun 208 H. Beliau merupakan tokoh ulama perempuan terkenal di Kairo, Mesir.

Sebuah riwayat menceritakan bahwa Sayyidah Nafisah melaksanakan ibadah haji sebanyak 30 x. Beliau juga merupakan seorang hafidhah qur’an. Tidak sedikit para ulama yang mengunjungi beliau untuk belajar dan mengambil fatwa darinya karena beliau juga mumpuni mengenai  hadis. Dan diantara ulama yang menerima ilmu dari beliau adalah Imam Syafi’i. 

Diriwayatkan bahwasanya ketika tiba di Mesir, Imam Syafi’i mendapatkan inayah tentang Sayyidah Nafisah.  Singkat cerita, Sayyidah Nafisah menerima maksud baik Imam Syafi’i untuk belajar kepadanya. Terkadang, pada bulan Ramadhan Imam Syafi’i melaksanakan shalat berjama’ah bersama gurunya. Dan ketika Imam Syafi’i wafat, Sayyidah Nafisah ikut menyolatkan.

Sayyidah Nafisah merupakan perempuan hartawan, beliau senantiasa bersikap dermawan kepada orang lain. Beliau juga menjenguk orang sakit dan menolong orang yang membutuhkan. Beliau sosok perempuan yang banyak berbuat baik. Beliau mengajak kebaikan selagi hal tersebut meningkatkan nilai penghambaan dan kezuhudan. 

Al-Muarikh Al-Qudha’i meriwiyatkan bahwa Sayyidah Nafisah menggali kuburannya sendiri  di tempat beliau nanti dikuburkan; Para ahli sejarawan yang masyhur bersepakat mengenai penjelasan tersebut. Beliau wafat pada bulan Ramadhan 208 H.

Dalam kitab “Bidayatu Al-Nihayat” Ibnu Katsir berpendapat bahwa “Setiap orang perlu meyakini bahwa keshalehahan Sayyidah Nafisah tidak dapat dibandingkan dengan perempuan shalehah manapun.

Wallahu ‘alaam bisshawab



SUMBER BACAAN

Nushus 'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam, M. Ag. Buku tersebut memuat teks berbahasa Arab diatas yang tertulis dalam kitab Yasalunaka Fil din wa al-hayat karya Syeikh Ahmad Asyarbashi.

Jumat, 03 April 2020

Siti Fatimah dan Bulan Ramadhan

Fatimah Al-zahra
فاطمة الزهراء
Foto: Fimale.com

Pertanyaan:
Apakah benar bahwasanya Fatimah Al-zahra putri Rasulullah SAW tidak mengalami masa haid? 
Dan apa makna dari kata الزهراء ?

Jawaban:
Fatimah Al-zahra RA merupakan putri dari pasangan Rasulullah SAW dan Siti Khadijah RA Ummul mukminin. Sebagaimana Maryam RA, Fatimah dikenal sebagai tuan putri bagi semesta alam. Fatimah juga sosok istri dari Imam Ali RA Karamallahu wajhah. Penerus Keturunan Rasulullah SAW hanya dari Fatimah RA.

Kata الزهراء memiliki makna perempuan yang wajahnya berseri-seri dan berkulit putih. Kata الزهراء juga dapat diartikan awan putih. Surat Al- baqarah dan Ali Imron bisa dikatakan الزهراء karena kedua surat tersebut diibaratkan dua lampu yang menerangi.

Sebuah riwayat mengatakan  bahwa Rasulullah SAW ibarat warna mekar maksudnya berkulit putih tercerahkan.
Siti Fatimah RA wafat di bulan Ramadhan 11 H. 

Dan saya (Syeikh Ahmad Asyarbashi) belum menemukan referensi ilmiah yang menyatakan bahwa penamaan الزهراء  adalah argumen atas diri beliau yang tidak pernah haid.

Wallahu 'alaam bil-shawwab

SUMBER BACAAN

Nushus 'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam, M. Ag. Buku tersebut memuat teks berbahasa Arab diatas yang tertulis dalam kitab Yasalunaka Fil din wa al-hayat karya Syeikh Ahmad Asyarbashi.

Kamis, 02 April 2020

Siti 'Aisyah dan Bulan Ramadhan

Siti 'Aisyah RA
السيدة عائشة
Foto: Fimale.com

Siti 'Aisyah merupakan perempuan Al-shidiqah putri Abu Bakar Al-shidiq RA. Beliau sosok perempuan yang memiliki keterkaitan dengan bulan Ramadhan. Karena pada bulan tersebut beliau menghembuskan nafas terakhir tepatnya pada hari selasa 17 Ramadhan 58 H. Beliau adalah ummul mukminin yang terbebas (dari fitnah kebohongan) dengan kesaksian firman Allah SWT dalam Al-qur'an. Beliau  satu-satunya perawan yang dinikahi Rasulullah dan perempuan paling dicintai setelah Siti Khadijah RA.

Salah seorang sahabat pernah bertanya: "Wahai Rasulullah! Siapa orang yang paling engkau cintai?" Rasul menjawab: "'Aisyah". Sahabat tersebut bertanya kembali: "Saya menginginkan jawaban dari golongan laki-laki. Rasul menjawab: "Abu Bakar Al-shidiq, Bapak dari 'Aisyah".

Disamping itu, Siti 'Aisyah sosok perempuan yang lebih mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul-Nya daripada kesenangan hidup dan kemewahan dunia. Ada satu riwayat menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah masuk ke rumah Siti 'Aisyah seraya bertanya kepadanya: "Aku akan menawarkan kepadamu urusan sehingga engkau tidak perlu tergesa-gesa karena urusan tersebut sampai orangtuamu bermusyawarah denganku. Lalu Siti 'Aisyah bertanya: "Urusan apa yang Baginda maksud?" Kemudian Rasul membacakan firman Allah SWT (baca: QS. Al-Ahzab ayat 28-29)

Lalu Siti 'Aisyah menjawab: "Urusan yang mana yang baginda perintahkan kepadaku untuk bermusyawarah dengan orangtuaku? Bahkan aku ingin keridhaan Allah, Rasul dan kebahagiaan akhirat. Mendengar pernyataan tersebut, Rasul ullah merasa bahagia dan takjub kepada Siti 'Aisyah.

Siti 'Aisyah wafat pada usia 66 tahun. Beliau dipanggil kehadirat-Nya pada malam selasa 17 Ramadhan 58 H.  Sesuai wasiatnya, Beliau dikuburkan setelah shalat witir di Baqi'. Semoga Allah senantiasa meridhai dan memberkahi Siti 'Aisyah. Aamiin..

Wallahu 'Alaam bil Shawwab

SUMBER BACAAN
Nushush 'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam M.Ag yang memuat teks berbahasa arab tersebut yang tertulis dalam kitab Yas alunaka Fil Din wa Al-Hayat karya Syeikh Ahmad Al-Syarbashi.

Rabu, 01 April 2020

Saudara Sepupu Rasulullah SAW

IBNU ABBAS
عبدالله بن عباس
Foto: id. Wikipedia.org

Ibnu Abbas adalah seorang sahabat putra seorang sahabat;  putra paman Rasul sekaligus sahabat Rasul yakni ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas mendapat julukan “Tinta Umat” dan “Lautan Ilmu” disebabkan keluasan ilmunya. Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim berasal dari bani Hasyim, Mekkah. Ibunya bernama Lubabah binti Haris keturunan Hilaliyah. Ibnu Abbas dilahirkan tiga tahun sebelum Rasul hijrah. Ketika Rasul wafat, dia berusia tiga belas tahun. Rasul telah berdakwah kepadanya dengan ilmu atau hikmah dan mentahniknya dengan air ludah Rasul sendiri. Ketika dia dilahirkan, Rasul bersama kaum muslimin sedang mengalami pemboikotan dari kaum Quraisy di Mekkah.

Rasul mendekap Ibnu Abbas seraya berdo’a, “اللهم علمه الكتابة” Dalam riwayat Bukhari lafalnya seperti ini,”اللهم علمه الحكمة” Abdullah bin Mas’ud berkata,”نعم ترجمان القران ابن عباس.” Para pengembara dari seluruh penjuru dunia rela melancong untuk bertanya permasalahan agama kepada Ibnu Abbas. Sayidina Umar pun sangat menghormati dan lebih mementingkan Ibnu Abbas padahal usia Ibnu ‘Abbas masih muda. Kendati demikian, Ibnu Abbas masih hidup setelah kekhalifahan Umar sekitar 47 tahun. Beliau dijadikan rujukan keilmuan oleh orang-orang yang mendatanginya untuk meminta fatwa. Dia adalah salahsatu dari nama Abdullah yakni Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr dan Abdullah bin Ash.

Ibnu Abbas telah meriwayatkan 1660 hadis Nabi. Dia merupakan salahsatu sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis. Berikut sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadis diantaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Jabir, Ibnu Abbas, Anas dan Siti Aisyah RA. Dia adalah sahabat Nabi yang paling banyak mengeluarkan fatwa dan biasanya  hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas berasal dari Ibnu Umar dari Anas dari Abu Tufail dan dari Abu Umamah bin Sahl. Mayoritas ulama pun tidak ragu untuk mengambil riwayat dari para tabi’in.

Ubaidilah bin Abdullah bin Utbah berkata,” Sebelumnya tidak ada seorangpun yang lebih paham mengenai hadis Nabi daripada Ibnu Abbas. Keputusan yang diambil oleh Abu bakar, Umar dan Usman RA ada yang berasal dari gagasan Ibnu Abbas. Tidak ada yang lebih faqih daripadanya. Dia mengajarkan ilmu Al-qur’an dengan Bahasa arab, sya’ir, mantiq dan hukum waris. Sehari beliau mengajarkan fiqih, hari selanjutnya ta’wil kemudian sejarah bangsa Arab, sya’ir dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jazirah Arab. Tidak ada orang berilmu yang duduk bersamanya kecuali tunduk hormat. Tidak ada orang yang bertanya kepadanya kecuali mendapat solusi darinya.” 

Sufyan bin Uyainah berkata,” Ada tiga zaman emas dalam peradaban manusia yaitu zaman Ibnu Abbas, Syu’ba dan Sufyan Tsauri. Sayyidina Ali pernah mempekerjakan Ibnu Abbas di Basrah kemudian dia meninggalkan Basrah sebelum pembunuhan Ali dan kembali ke Hijaz. Atha’ mendeskripsikan Ibnu Abbas dengan perkataan,” Saya tidak pernah melihat bulan tanggal 14 kecuali saya mengingat wajah Ibnu Abbas. Di pipi Ibnu Abbas tampak jelas bekas tetesan air mata disebabkan tangisan rasa takut dan takwa kepada Allah SWT.

Ibnu Abbas wafat di Thaif pada usia 68 tahun. Muhammad bin Hanifah yang menyolatkannya. Pada hari berduka itu, Muhammad berkata,” Hari ini adalah hari wafatnya seorang hamba ahli ibadah dari umat Islam. Ketika Ibnu Abbas hendak dikuburkan, orang-orang sekitar mendengar suara tanpa wujud membacakan ayat :
ياأيّتها النفس المطمئنّة * ارجعي إلى ربّك راضية مرضيّة * فادخلي في عبادي وادخلي جنّتي"



Wallahu A'laam Bil Shawwab

DAFTAR BACAAN

Buku Nushus 'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam M. Ag memuat teks berbahasa Arab tersebut yang tertulis dalam kitab Yasaluna Fil Din wa Al-Hayat karya Syeikh Ahmad Al-Syarbashi