Siapakah Ulama Penyusun Shalawat Thibb Al-Qulub?
Tabaarakallahu lahu wa lana, Aamiin..
Wallahu 'alaam.
Sumber literatur
Buku Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer (Nariyah, Munjiyat, Fatih, Thibb al-Qulub dan Istighatsah halaman 172, penulis Muhammad Idrus Ramli.
Sumber: Infopena.com
Semenjak wabah virus Corona melanda Indonesia, para ulama nusantara menganjurkan beberapa bacaan yang sebaiknya perlu diamalkan oleh umat Islam sebagai bentuk upaya syari'at rohani memohon kepada Allah SWT agar kita semua bisa selamat dari penyakit dan wabah termasuk wabah Corona yang mengancam nyawa umat manusia.
Sesuai instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama diantara bacaan amalan yang dimaksud ialah shalawat thibb al-qulub. Shalawat yang berarti shalawat penawar hati berisi untaian kalimat-kalimat do'a harapan.
Lantas, siapakah ulama yang menyusun shalawat thibb al-qulub?
Shalawat ini disusun oleh al-Imam Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Hamid al-Adawi al-Mishri al-Azhari al-Maliki, terkenal dengan panggilan al-Dardir. Ia dilahirkan di perkampungan Bani 'Adi, salah satu suku Quraisy yang menempati Sha'id (dataran tinggi) Mesir, pada tahun 1127 H/1715 M. Dari segi sejarah, nasab al-Dardir bersambung kepada Sayyidina Umar bin Al-Khaththab RA, khalifah kedua umat Islam. Julukan al-Dardir diperoleh, ketika ada suku Arab singgah di perkampungan Bani 'Adi, pemimpin mereka terkenal sebagai ulama yang baik dan dipanggil al-Dardir. Syaikh al-Dardir dipanggil dengan julukan ulama tersebut karena bertujuan tafaul, yaitu berharap mendapatkan keberkahan dan kemuliaan seperti beliau.
Pada masa kecilnya, al-Dardir telah menghafal al-Qur'an dengan baik. Ia juga sangat rajin dalam menuntut ilmu. Lalu melanjutkan belajar ke al-Jami' al-Azhar dan rutin menghadiri perkuliahan para ulama besar. Menimba berbagai disiplin ilmu dan mulazamah (mengikuti pelajaran secara rutin dalam waktu yang lama) kepada Syaikh Ali al-Sha'idi al-'Adawi, ulama terkemuka madzhab Maliki. Disamping juga belajar kepada Syaikh Ahmad al-Shabbagh, al-Malawi dan al-Hifni. Dari al-Hifni, al-Dardir memperoleh tarekat tasawuf dan kemudian mengantarnya menjadi pembesar tarekat Khalwatiyah.
Setelah mencapai puncak dalam keilmuannya, al- Dardir mengajar di al-Azhar, dan menjadi guru besar ruwaq (asrama) para pelajar dari Sha'id, tempat asal kelahirannya. Di antara murid-muridnya yang sangat populer adalah Syeikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Arafah al-Dusuqi, dan Syeikh Abu al-'Abbas Ahmad bin Muhammad al-Shawi, penulis Hasyiyah al-shawi 'ala Tafsir al-Jalalain dan lain-lain.
Al-Dardir juga meninggalkan banyak karya kitab yang menjadi rujukan para ulama dan pelajar sampai saat ini. Antara lain Syarah Mukhtashar Khalil dan Aqrab al-Masalik li Madzhab al-Imam Malik, dalam bidang fikih Maliki. Al-Kharidah al- Bahiyyah fi 'ilm al-'Aqaid al-Daniyyah dalam bentuk nadham dan diberi syarah oleh beliau sendiri, dalam bidang ilmu tauhid. Kitab ini sangat populer di Nusantara dan menjadi kajian banyak pesantren.
Al-Dardir diberi julukan Syaikh al-Islam wa Barakah al-Anam (mendatangkan keberkahan kepada manusia), karena keunggulannya dalam berbagai bidang ilmu rasional dan tradisional. Beliau juga seorang sufi yang zuhud, berani berbicara benar kepada siapapun, selalu mencegah kemaksiatan dan kemungkaran. Beliau juga tidak takut kepada penguasa maupun tokoh. Hatinya bersih, jiwanya mulia dan budi pekertinya luhur. Setelah gurunya, Ali al-Sha'idi meninggal dunia, al-Dardir diangkat sebagai penggantinya sebagai guru besae Madzhab Maliki.
Al-Dardir R.A wafat pada tanggal 6 Rabi'ul awal 1201 H/ 27 Desember 1786 M, setelah sakit selama beberapa hari.
Demikianlah riwayat singkat ulama yang begitu berjasa mewariskan shalawat thibbil qulub yang tentu memiliki banyak nilai kebermanfa'at disebabkan oleh barakah penyusunnya. Mari kita terus membaca dan mendawamkannya!
Wallahu 'alaam.
Sumber literatur
Buku Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer (Nariyah, Munjiyat, Fatih, Thibb al-Qulub dan Istighatsah halaman 172, penulis Muhammad Idrus Ramli.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar