Wajibbaca.com
Agama Islam merupakan satu-satunya agama samawi yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala. Didalamnya terdapat dua sumber hukum utama yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Kitab Al-Qur’an berisi pedoman hidup muslim dan muslimah. Sedangkan Hadits berperan sebagai penjelas ajaran-ajaran Al–Quran yang bersifat umum. Kedua sumber hukum tersebut bertujuan agar umat islam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat disertai keridhoan Allah SWT.. Dan diantara sekian banyak penjelasan hadits mengenai ajarannya, terdapat suatu aspek pembelajaran mengenai akhlak.
Kita selaku umat Islam harus senantiasa meneladani akhlak Rasulullah. Pernyataan tersebut diperkuat oleh dalil Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya “bahwasanya telah ada pada diri rasul suri tauladan yang baik”.
Ternyata di zaman modern ini, umat Islam khususnya para muslimah sedang mengalami krisis akhlak. Masalah tersebut dikarenakan prilaku mereka terkontaminasi oleh prilaku orang-orang barat yang bebas tanpa aturan sehingga otomatis akhlak merekapun tidak sesuai lagi dengan ajaran yang diperintahkan Al-Qur’an dan Hadits. misalnya seorang muslimah yang sibuk mempercantik diri dengan berbagai macam produk kosmetik mulai dari yang standar hingga yang mahal sehingga karena kesibukannya itu cara untuk mempercantik dalam diri (inner beauty) terabaikan atau terlupakan. Alhasil kecantikan luar diri lebih unggul daripada kecantikan dalam diri.
Memang penyusun juga seorang muslimah yang sebaiknya suka mempercantik diri dan tidak menafikan bahwa cara mempercantik diri merupakan suatu hal yang sangat penting bagi wanita bukti rasa syukur wanita kepada Sang Pencipta. Di sisi lain Islam juga mengajarkan bahwasanya Allah Subhanahu Wata’ala ialah dzat yang indah dan menyukai keindahan. Salahsatu pengamalan ajaran tersebut yaitu dengan cara mempercantik luar diri dan tentu saja diiringi dengan berusaha juga mempercantik hati.
Oleh karena itu, penyusun termotivasi menulis tulisan ini dengan harapan agar kita senantiasa selalu saling mengingatkan kebaikan dalam rangka memperbaiki kualitas pribadi diri menuju insan Rabbani yang mulia dihadapan-Nya. Apakah kita Wanita Setengah Bidadari?
CIRI-CIRI WANITA SHALEHAH
Beberapa ciri seorang wanita shalehah diantaranya:
WANITA YANG BESAR CINTANYA
Cinta adalah salah satu misteri yang bisa memberikan “sesuatu” kepada orang yang sedang terlibat di dalamnya. Sesuatu itu bisa berupa kebahagiaan, kekuatan, pengorbanan, perhatian, senyuman, kerinduan, gelisah, duka kecewa, marah, dan banyak lagi. Orang yang mencintai seseorang atau sesuatu, bisa jadi dia akan rela melakukan banyak hal tapi seandainya tidak tumbuh cinta di dalam hatinya niscaya orang tersebut tidak akan pernah mau melakukannya, bahkan walau sekedar untuk memikirkannya.
Meskipun cinta adalah fitrah bagi manusia, namun manusia tidak bisa seenaknya menebar cinta yang berselimut syahwat kepada setiap lawan jenisnya, karena Islam sudah membungkus cinta antara dua orang yang berlainan jenis dengan sebuah wadah yang indah yang dinamakan nikah.
لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَبَّيْنِ مِثْلُ النِّكَاحِ
“Tidak telihat hubungan yang demikian dekat di antara dua orang yang saling mencintai yang bisa menyamai hubungan yang terjalin karena pernikahan.“
(HR.Ibnu Majjah )
Setiap orang dianugerahi cinta yang dengannya bisa merasakan betapa nikmatnya saat “terlibat” di dalamnya. Cinta seseorang terhadap kedua orang tua membuatnya bahagia saat keduanya bangga kepadanya, tersenyum saat keduanya bahagia, dan membuatnya merasa tepukul saat keduanya harus pergi menghadap Allah SWT, meninggalkannya. Cinta seseorang terhadap sang khalik memberinya kekuatan untuk meninggalkan aktivitasnya demi menjalankan pengabdiannya kepada-Nya. Menahan lapar untuk berpuasa. Menyisihkan sebagian pendapatannya untuk berbagi atas namaNya. Menyebut namaNya saat mendapat keikmatan atau mendapat musibah. Semua karena cinta.
Oleh karena itu, alangkah beruntungnya kalau wanita calon pendamping seorang laki-laki adalah wanita yang besar rasa cintanya, karena besarnya rasa cinta itu akan mampu menutupi banyak kekurangan yang ada pada diri pasangannya. Besarnya cinta itu akan mampu mencegah kata-kata maupun perbuatan yang sekiranya akan menyakiti hati pasangannya, karena sebuah siksaan baginya manakala orang yang dicintainya teluka hati karena ucapan atau perbuatannya.
تَزَوَّجُوْا الوَدُوْدَ الوَلُوْدَ
“Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang lagi subur “.
Kebesaran cinta dari wanita yang menjadi pendamping hidup adalah nikmat yang besar dari Allah Subhanahu Wata’ala bagi seorang laki-laki, karena wanita mulia itu akan rela mengorbankan kepentingan dirinya,membuang jauh egonya manakala suaminya sedang lebih dibutuhkan Allah Subhanahu Wata’ala untuk membantu hamba yang lain, misalnya. Atau untuk menuntut ilmu, mencari nafkah atau jihad fisabilillah, beramar ma’ruf nahi munkar, dan seabrek kegiatan lain yang kesemuanya untuk memperoleh ridha Allah Subhanahu Wata’ala.
Akan lebih beruntung lagi kalau kebesaran cinta itu bisa tebungkus keridhaan Allah, karena wanita mulia itu akan mendasarkan berbagai hal atas keridhan allah dan rasa cintanya yang besar itu di buktikan dengan perbuatan sederhana karena wanita mulia itu tidak ingin rasa cinta kepada suaminya berakhir dengan perceraian. Hal tersebut sesuai hadits yang berbunyi :
اَحْبِبْ حَبِيْبَكَ حَوْنًا مَا عَسَى اَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا
اَبْغِضْ بَغِيْضَكَ حَوْنًا مَا عَسَى اَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمًا مَا
“Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, mungkin suatu saat dia akan menjadi muauhmu. Bencilah seseorang sesederhana mungkin, mungkin suatu saat dia akan menjadi kekasihmu.
WANITA YANG MENYUKAI ILMU
Wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam hal keilmuan, karena ilmu adalah sarana untuk meraih banyak hal tanpa mengenal jenis kelamin.
مَنْ أَرَادَالدُّنْيا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
وَ مَنْ أَرَادَالْاَخِرةَ فَعَلَيْهِ بِالعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَهُما فَعَلَيْهِمَابِالْعِلْمِ
“Barangsiapa menginginkan dunia, maka untuk meraihnya raihlah denganilmu. Dan barangsiapa menginginkan akhirat, maka untuk meraihnya raihlah dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya, maka untuk meraihnya raihlah dengan ilmu pula. “
Oleh karena itu, tepat sekali kalau Islam mewajibkan setiap individu baik laki-laki maupun wanita untuk menuntut ilmu. Pasalnya, orang berilmu mempunyai banyak kelebihan baik di hadapan makhluk lain maupun dalam pandangan Allah Subhanahu Wata’ala.
...يَرْفَعِ اللهُ الّذِيْنَ ءَامَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّلذِيْنَ أُتُواْالْعِلْمَ دَرَجَاتٍ(11)
“ Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat... “ (QS. Al- Mujaadilah :11)
Bahkan, bisa jadi merupakan kedzaliman apabila seseorang melakukan sesuatu atau mengikuti keinginannya tanpa melibatkan ilmu. Seperti seorang ibu yang mengobati anaknya yang sedang sakit tanpa ilmu dan pengetahuan, bisa jadi apa yang dia lakukan justru akan membahayakan anaknya.
“Tetapi orang-orang yang dzalim, mengikuti keinginannya tanpa ilmu pengetahuan...” (Ar-Rum:29)
Wanita yang menyukai ilmu adalah wanita setengah bidadari yang pantas didambakan oleh setiap laki-laki untuk menjadi pendamping hidpunya. Sebab, wanita mulia itu akan menjadi mitra yang menyenangkan dalam usaha seorang suami untuk selalu menambah perbendaharaan pengetahuan. Wanita yang menyukai ilmu akan dengan senang hati memberikan kesempatan kepada suaminya menuntut ilmu ke segala tempat untuk kemudia berharap akan mendapat bagian dari ilmu yang didapat suaminya, tidak justru melarang suaminya dan lebih memilih mengajaknya (menuntutnya) untuk bersenang-senang. Sebaliknya, saat dia mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu, maka dia juga akan senang berbagi dengan suaminya. Wanita mulia tersebut tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diperolehnya untuk menambah ilmu, karena dia menyadari sungguh akan menjadi penyesalan di akhirat kelak ketika mendapatkan kesempatan untuk mencari ilmu tetapi dia sia-siakan.
اَشَدُّ النّاسِ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَا مَةِ رَجُلٌ أَمْكَنَهُ طَلَبُ الْعِلْمِ فِي الدُّنْيَا فَلَمْ يَطْلُبْهُ
“ Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah seseorang yang mendapat kesempatan untuk mencari ilmu (agama) ketika hidup di dunia, tetapi ia tidak mencarinya. “ (HR. Ibnu Assakir dari Anas R.A)
Meskipun teks di atas ditujukkan kepada laki-laki, tetapi hadits tersebut juga mencakup bagi kaum wanita.
اَلمؤنثُ فَرْعٌ مّنَ المُذَكَّرِ (قائدة اصول الفقه)
“ Wanita adalah bagian(cabang) dari laki-laki “ ( kaidah ushul fiqh )
Wanita yang menyukai ilmu akan bisa merasakan bagaimana nikmat yang dirasakan oleh hati dan akalnya saat bertambah ilmunya. Wanit mulia itu akan menyadari bahwa raga dan jiwanya juga memerlukan pemenuhan kebutuhan, salah satunya kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan. Karena itu, wanita mulia akan selalu menggunakan kesempatan untuk menamabah ilmu sebagai bentuk pemberian hak kepada jiwanya. Dan, kalau sudah begitu, maka rumah tangganya akan terasa dinamis dan hidup, tidak angker dan monoton karena tidak ada cahaya penerangannya.
Wanita yang menyukai ilmu akan selalu telihat berbeda kesehariannya karena wawasannya senantiasa bertambah dengan hidupnya pikiran, meskipun secara fisik tetap sama. Apalagi jika wanita mulia itu juga berusaha mengamalkan apa yang didapatnya, semakin komplitlah kebahagiaan itu. Akan selalu ada perubahan yang akan didapat oleh seorang suami darinya. Saat wanita itu mendapati ilmu bahwa bertutur kata manis dan menyenangkan hati orang lain, terlebih kepada suaminya, adalah perintah Allah, maka dia akan mulai menerapkannya.
Ilmu adalah sebuah keniscayaan bagi seorang hamba, karena dengannya seseorang meraih banyak hal. Oleh karena itu, saat ditawari antara harta, kekuasaan, dan ilmu, Nabi Sulaiman AS lebih memilih ilmu.
خُيِّرَ سُلَيْمَا نُ بَيْنَ الْمَا لِ وَالْمُلْكِ وَالْعِلْمِ فَا خْتَارَ الْعِلْمَ فَاُعْطِيَ الْمُلْكَ وَالْمَالَ
“Nabi Sulaiman disuruh memilih antara hata benda, kerajaan, dan ilmu. (Dia) memilih ilmu, dan pada akhirnya dia diberi juga (mendapat) kerajaan dan harta benda.” (HR. Ad-Dailami)
Wanita yang menyukai ilmu adalah anugerah indah bagi suaminya, karena apa yang dilakukan wanita mulia tersebut selalu berlandaskan ilmu, tidak hanya ikut-ikutan belaka. Lebih dari itu, wanita yang giat menuntut ilmu secara tidak langsung merupakan bentuk pertolongan kepada suaminya yang bertanggung jawab atas kebaikan dunia dan akhirat seluruh anggota keluarganya, termasuk perolehan akan ilmu. Sebagaimana tanggung jawab yang diperlihatkan oleh Rasulullah SAW. Kepada Hafshah yang telah mendatangkan guru kepadanya untuk mengajari tulis-menulis.
Dari Asy-Syifa’ binti Abdullah, “Rasulullah SAW. Menemuiku ketika aku sedang berada di rumah Hafshah. Beliau bersabda : ‘ Mengapa kamu tidak mengajarkan Hafshah sesuatu sebagaimana kamu mengajarinya tulis-menulis ? “ (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Hadits diatas, selain menunjukkan bahwa seseorang diperintahkan menjauhi suatu perbuatan yang tidak berguna dan tidak bemanfaat, mengandung sebuah pembelajaran betapa belajar itu sangat penting, tidak terkecuali bagi ibu rumah tangga atau seorang wanita ( yang di dalam hadits tersebut adalah Hafshah salah satu isteri Rasulullah)
Wanita yang menyukai ilmu selain luas wawasannya dan menjadi cerah pikirannya, dia juga akan mempunyai banyak kesempatan untuk meraih banyak kebajikan, yakni dengan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Itu merupakan sedekah baginya, karena salah satu sedekah yang utama adalah seseorang belajar suatu ilmu kemudian mengajarkannya kepada orang lain.
أَفْضَلُ الصَّدَقةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمهُ اَخَا هُ الْمُسْلِمَ
“Sedekah yang paling utama adalah seorang Muslim belajar suatu ilmu kemudian mengajarkannya kepada saudara Muslim lainnya. (HR. Ibnu Majjah )
YUK JADI MUSLIMAH PRODUKTIF!
Ada pernyataan yang mendalam yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang mengatakan : “Wanita adalah setengah dari masyarakat yang melahirkan setengah lainnya sehingga seolah-olah mereka adalah seluruh masyarakat”.
Jika wanita membentuk hampir seluruh masyarakat, muslimah harus berjuang untuk menjadi produktif dalam hidup ini.
Berikut ini beberapa cara untuk menjadi muslimah yang produktif, diantaranya :
1. Merencanakan Waktu Secara Efektif
Salah satu hal pertama yang Muslimah produktif harus lakukan adalah merencanakan waktunya secara efektif. Ini termasuk penjadwalan waktu untuk belajar, bekerja beribadah dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Perkataan yang mendalam dari seorang ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah tentang kegunaan memanfaatkan waktu dengan baik : “Jika Allah menginginkan kebaikan untuk hambaNya, Dia menolongnya dengan waktu dan membuat waktunya sebagai penolong baginya“.
2. Fokus Pada Kualitas Bukan Kuantitas
Ada sebuah hadits mengatakan bahwa umat Islam perlu berusaha menyempurnakan tugas apapun yang telah dimulai. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :“ Allah subhanahu wata’ala menyukai ketika engkau melakukan sesuatu, engkau lakukan dengan baik.“ (HR. Muslim)
Seorang muslimah dalam memulai aktivitas apapun, selalu mengingatkan diri sendiri bahwa kualitas lebih difokuskan daripada kuantitas. Lebih baik unggul disatu tempat seperti menulis atau menjadi ibu yang baik, daripada melakukan pekerjaan yang biasa-biasa saja dengan fokus pada terlalu banyak hal. Seorang Muslimah produktif selalu berusaha untuk unggul dalam apa yang ia lakukan dan tidak puas dengan yang biasa-biasa saja.
3. Melakukan Yang Terbaik
Wanita yang paling inspiratif dari isteri-isteri Rasul yang menjadi Muslimah produktif salah satunya ialah Siti Khadijah yang merupakan seorang wanita pebisnis sukses. Memberikan yang terbaik untuk peran dan tugas yang ada ditangan membutuhkan fokus dan untuk mengeluarkan energinya hanya fokus kepada tugas yang ada ditangan.
4. Bertakwa Kepada Allah Subhanahu Wata’ala
Di samping perjuangan dan usaha, muslimah produktif harus sadar bahwa keberhasilan akan datang dari Allah yang berfirman dalam Al-Qur’an : “ Dan bertakwallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.“ (QS :5:23)
Meningkatkan produktifitas spiritual adalah bahan rahasia untuk menjadi sukses. Sebagai seorang muslimah haruslah bekerja keras, memberikan kontribusi kepada masyarakat dan merencanakan waktu secara efektif. Selanjutnya menempatkan kepercayaan kepada Allah dengan selalu memohon kepadaNya untuk menolong dalam mencapai keberhasilan teringgi dalam kehidupan ini dan akhirat.
KUNCI MERAIH KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT
1. Kunci Kemuliaan Adalah Taat Kepada Allah Dan Rasulnya
Sumber kemuliaan dimuka bumi ini adalah Allah dan RasulNya. Allah-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, sedang Rasulullah adalah hambaNya yang paling dimuliakan.
Bagi manusia, kunci kemuliaan hidup adalah dengan taat kepada Allah dan RasulNya. Allah memiliki Al-Quran berisi perintah dan petunjuk hidup untuk dijalani. Rasulullah memiliki sunnah (hadits) yang harus kita ikuti.
Sesorang yang taat kepada Allah dan Rasul akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Buah dari ketaatan tersebut aka.n memancarkan kebaikan dan kebaikan yang lebih baik, dia mulia bagi manusia yang lain, juga mulia bagi makhluk yang lain.
Bentuk keta'atan kepada Allah dan Rasul harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang muslimah yang baik, kita harus menjalankan keislaman kita dengan sebaik-baiknya, menjaganya agar tetap utuh dan mengembangkannya agar lebih cantik.
Ketaatan kepada Allah dan RasulNya akan menumbuhkan iman yang kokoh. Yang tak pernah goyah diterpa apapun. Iman mendorong seseorang untuk mencintai Allah dan RasulNya. Karena itu, orang yang taat harus menjaga iman dan keislamannya dengan baik.
Untuk dapat menyempurnakan keislaman dan keimanan, seseorang harus memiliki sifat ihsan. Ihsan adalah pengingat untuk selalu baik, ihsan adalah benteng untuk tetap kokoh, ihsan adalah jalan untuk selalu taat dan tunduk kepada Allah.
Hal lain, bentuk taat kita pada Allah tercermin pada hadits dibawah ini :
Dari Umar bin Khathab RA, ia berkata : “ Pada suatu hari ketika kami sedang duduk disamping Rasulullah tiba-tiba datang seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya tanda-tanda sehabis melakukan suatu perjalanan. Tidak seorangpun diantara kami mengetahuinya, lalu ia duduk di hadapan Nabi SAW lalu menempelkan kedua lututnya pada lutut nabi dan meletakkannya kedua telapak tangannya diatas paha Nabi. Dan ia berkata : “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang islam.” Rasulullah menjawab, “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji jika kamu mampu menempuh perjalanan kesana.” Laki – laki tersebut berkata : “ Engkau benar,’ Kami heran kepada laki-laki itu, dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkan. Laki-laki itu berkata : “ Beritahukan kepadaku apakah iman itu.’ Rasulullah SAW menjawab.”Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar ( ketentuan ) baik dan burukNya, ia berkata , “ engkau benar “. Ia berkata, “ Beritahukanlah kepada kami tentang ihsan .” Nabi menjawab,” Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya dan meskipun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Ia berkata,” engkau benar.” Ia berkata,” Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.” Nabi menjawab,“ orang yang ditanya tentang hari kiamat tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.“ Ia berkata,“ Beritahukanlah tanda-tandanya.“ Rasul menjawab :“seorang budak melahirkan majikannya, dan orang yang tadinya miskin, tidak beralas kaki, tidak berbusana, penggembala, lalu berlomba-lomba didalam membangun.“ Kemudian orang itu pergi. Aku terdiam cukup lama. Kemudian Rasulullah bertanya, “ Hai Umar, tahukah kamu siapa yang tadi bertanya ?“ aku menjawab, Allah dan RasulNya yang lebih tahu.“ Sesungguhnya dia adalah Jibril. Ia datang kepada kalian untuk mengajar kalian.“
2. Kunci Surga Adalah Tauhid ( Meng-Esakan Allah )
Dunia hanya tempat persinggahan, sedang di akhirat kita hidup kekal abadi. Dunia adalah masa dimana kita mengumpulkan bekal untuk akhirat. Dunia hanya tempat” menanam” kebaikan, sedang di akhirat adalah tempat menuainya.
Berbekal untuk akhirat, adalah keniscayaan yang harus kita lakukan. Sehingga, ketika kita melakukan kegiatan di dunia ini, bukan semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan di dunia saja.
Hidup di dunia merupakan awal kehidupan kita di akhirat. Tujuan hidup kita adalah ke surganya Allah. namun, menuju ke surganya Allah tidaklah mudah, perlu bekal amal kebaikan yang banyak, perlu usaha yang keras, harus rajin beribadah, bersikap istiqomah, barulah kita bisa memperoleh indahnya surga.
Allah berfirman : “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah kedalam surga-Ku.” (QS Fajr : 27)
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, namun yang paling utama adalah tauhid kita kepada Allah. Tauhid adalah persepsi dan kepercayaan kita kepada Allah. Surga hanya diisi oleh orang-orang yang bertauhid kepada Allah.
Secara sederhana, tauhid dapat diartikan jalan seorang hamba yang meng-Esakan Allah. Allah itu maha Esa. Tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak ada yang seperti Dia, tidak ada sekutu daam Dzat, sifat, perbuatan, perintah, atau nama-namaNya yang indah.
Dialah yang Esa dalam dzatNya. Semua yang lain adalah makhluk ciptaanNya. Dikalangan makhlukNya, terlebih oleh manusia, tanda atau simbol dari sifat-sifatNya dapat diterlihat, ini agar kita dapat merasakan arti sifat-sifat allah yang menguatkan iman kita.
Dialah yang Esa didalam perbuatanNya. Dia tidak membutuhkan pertolongan dalam tindakanNya mencipta, atau dalam mengerjakan apa yang dikehendakiNya terhadap makhlukNya.
Dialah yang Esa dalam perintah dan didalam keadilanNya. Dialah satu-satunya sumber pahala, adzab, amal sholeh atau dosa. Selain dia tidak ada yang berhak mengatakan,” ini benar, ini salah, ini halal, ini haram.” Dialah yang Esa dalam namaNya yang indah, tidak ada yang dapat disifati dengannya selain Dia. Siapapun yang mempersamakan sesuatu yang lain denganNya adalah berdosa dengan dosa yang tidak dapat dimpuni-yakni menyekutukan Dia dengan sesuatu yang lain. Dialah satu-satuNya yang berhak disembah. Ke-EsaanNya tidak dapat dibagi-bagi.
3. Kunci Iman Adalah Merenungkan Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Dan Makhluk-Makhluk Ciptaan Allah.
Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah,katakanlah kepadaku tentang islam,satu perkataan yang tidak aku tanyakan kepada selain dirimu.” Rasulallah bersabda : ‘katakanlah,”aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah.” (HR. Muslim)
Kita harus teguh di atas keimanan dan istiqomah di atas syari’at allah,karena keimanan kepada Allah mendahului ketaatan-ketaatan yang lain,dan amalan-amalan yang shaleh akan memelihara keimanan, karena itu, milikilah keimanan dan amal shaleh.
Dalam hadis lain, Rasulallah bersabda: “tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai kepada saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri .” (HR Bukhari Muslim)
Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mengangakan untuk saudaranya seperti apa yang diangankan untuk dirinya sendiri. Kita harus mencintai kebaikan untuk saudara muslim sebagaimana mencintai kebaikan untuk diri sendiri, dan membenci keburukan bagi saudara muslim sebagaimana membenci untuk dirinya sendiri.
Tanda- Tanda Kekuasaan Allah
Allah berfirman : “ Apakah kamu melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau. Sesungguhnya Allah MahaHalus lagi MahaMengetahui. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada dilangit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhNya Allah benar-benar MahaKaya lagi MahaTerpuji”.
Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada dibumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintahNya. Dan Dia menahan benda-benda langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izinNya ? sesungguhnya Allah mahaPengasih lagi Maha penyayang kepada manusia. Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu lagi, sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.
“Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan ( syariat) ini dan serulah kepada ( agama ) TuhanMu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj)
Allah-lah yang membuat dan menciptakan alam semesta beserta isinya, sekaligus mengatur dan menentukan keadaan, kondisi, dan rezeki bagi semua makhlukNya. Dia mencipta sesuai kebutuhan makhluk yang ada didalamnya, keselarasan, kesejahteraan dan keharmonisan ekosistem bagi manusia, tumbuhan, hewan dan alam.
Segala sesuatu diciptakan dalam kebaikan dan kebijaksanaan, sesuai dengan tatanan yang sempurna ini, segala sesuatu mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
Syekh Bayrak Al-Jerrahi menuliskan : “Allah tidak membuuhkan penciptaan dan tidak mendapatkan manfaat apapun dariNya. Mungkin yang menjadi alasan bagi penciptaan adalah bahwa dengannya Dia dapat meneguhkan kebesaran dan kekuasaanNya yang abadi, dan melihat keindahan srta kesempurnaanNya sendiri. Allah berfirman : “ aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka kuciptakan makhluk.”
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna harus mengetahui bahwa Allah telah menciptakan segalanya bagi manusia dan menciptakan manusia bagi diriNya sendiri. Semua makhluk, dan tatanan yang menyertainya merupakan manfaat dan hikmah. Orang harus menemukan manfaat dan hikmah ini, menggunakannya dan merasa beruntung karena menjadi bagian dari pencipaan ini.
Jadi, bisa kita tarik benang merah bahwa muslimah shalehah adalah wanita yang besar cintanya kepada suaminya, keluarga, teman sejawat bahkan kepada Sang Khalik dan RasulNya yang di buktikan dengan ketaatan dan ketakwaan. Muslimah shalehah adalah wanita yang menyukai ilmu pengetahuan karena dengannya harkat martabat seorang wanita dimuliakan di hadapan makhluk lain atau di hadapanNya. Bahkan dengan memiliki ilmu yang tinggi disertai pengamalan istiqomah dalam kehidupan sehari-hari mampu menghantarkan wanita shalehah tesebut kedalam nikmatnya kehidupan surga.
Adapun muslimah produktif adalah wanita yang mengisi waktu hidupnya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.
Sebagian kunci meraih kebahagiaan dunia dan akhirat adalah taat kepada Allah dan RasulNya, meng-EsakanNya dan Merenungkan tanda- tanda kekuasaan-Nya di muka bumi ini.
Rasulullah bersabda :
تَفَكَّرُوا فِى خَلْقِ اللهِ وَلاَ تَتَفَكَّرُوا فِى ذاتِ الله
“ Berfikirlah kalian tentang penciptaanNya dan janganlah kalian berfikir tentang dzatNya”.
Kita para muslimah sebaiknya senantiasa berdo’a dan berusaha seoptimal mungkin untuk merealisasikan akhlak setengah bidadari kemudian setelah itu bertawakal kepada Dzat yang berkuasa mengubah (diri) suatu kaum menjadi lebih baik.
QS Ar-Ra’du :11
إنّ الله لا يُغَيِّرُما بقومٍ حتّى يُغيِّروا ما بِاَ نْفُسِهمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum tersebut merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(QS Ar-Ra’du :11)
APAKAH KITA WANITA SETENGAH BIDADARI?
Tasikmalaya, 18 September 2020
DAFTAR PUSTAKA
Al Jauziyyah, Ibnu Qoyyim, Pengaruh Dosa & Maksiat Terhadap Manusia, Solo: Pustaka Arafah, Mei 2003.
Jamil Zainu, Muhammad, Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat, Jakarta: Akafa Press, Agustus 1998.
Kamil, Maeft, Pedoman Bagi Wanita Muslimah, Jakarta: Ditjen Kelembagaan Agama Islam Depag `RI, Januari 2002.
Khalil Jam’ah, Ahmad, Tujuh Puluh Tokoh Wanita dalam Kehidupan Rasulullah, Jakarta: Darul Falah, April 2004.
Al-Bantani, Imam Nawawi, Nashaihul ‘Ibad, alih bahasa Fuad kauna, cet.10, Bandung : Irsyad Baitus Salam, 2005.
Al hasyimi, Sayyid Ahmad, Syarah Mukhtarul Ahaadits, pensyarah Much. Anwar dkk, cet.7 , Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2005.
Al-Mundziri, Imam, Ringkasan Shahih Muslim, alih bahasa Achmad Zaidun, cet.2, Jakarta : Pustaka Amani, 2003.
http://www.arrahmah.com/muslimah/10-tips-untuk-menjadi-muslimah-produktif.html&client=