Sabtu, 24 Oktober 2020

Pelajar Dalam Merawat Kebhinekaan


PELAJAR DALAM MERAWAT KEBHINEKAAN

Sumber Gambar Kalbarupdates.com

Bhineka Tunggal Ika merupakan sebuah kutipan dari karangan jawa kuno (red : kitab Sutasoma) karya Mpu Tantular yang telah disepakati bersama sebagai semboyan bijak bangsa Indonesia. Frase tersebut seolah-olah menyimpan  pesan penting: “Hendaklah menjaga kerukunan dan merawat kebhinekaan demi mencapai tujuan persatuan dan kesatuan !” bagi kita sebagai pelajar dan generasi muda penjaga tanah pertiwi.

Persatuan dalam keberagaman bisa terjalin dengan harmonis apabila adanya rasa saling memahami akan perbedaan yang telah menjadi keniscayaan atau sunatullah sehingga dengan begitu terciptalah kerukunan. Pada tahun 1960, KH. Idam khalid seorang ulama sekaligus negarawan mencetuskan tiga poin penting yang menjadi pedoman hidup rukun dalam menghadapi heterogensi masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia yang majemuk. Tiga poin ini dikenal sebagai trilogi perjuangan yang berisikan amanat untuk menumbuhkan kesadaran,  yaitu:

1. Sadar akan prinsip kita sendiri. 
2. Sadar akan prinsip orang lain
3. Sadar akan situasi dan kondisi

Sikap sadar akan diri sendiri mampu melahirkan sikap konsisten dan kuat terhadadap apa yang menjadi keyakinan diri sehingga tidak mudah digoyahkan orang lain yang bersebrangan.  Sadar akan prinsip orang lain akan melahirkan sikap toleransi dan bijak menghadapi kenyataan dunia yang selalu penuh dengan pro dan kontra, keseragaman agaknya akan sangat sulit bahkan mustahil untuk diwujudkan namun keberagaman yang dibingkai sikap toleransi akan menciptakan kedamaian, saling menghargai dan hidup dalam kerukunan.  Sikap sadar akan kondisi dan situasi akan melahirkan sikap kehati-hatian dalam bertindak, tidak gegabah dalam mengambil keputusan.  Kiranya jika tiga poin ini dijadikan landasan bertindak setiap orang maka pemusuhan, ketidak harmonisan antarras, suku dan umat beragama akan segera hilang dan selalu terjaga bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika,  berbeda namun tetap satu jua. 

Disamping itu, jika persatuan dan kesatuan terealisasi oleh keberagaman dan keseragaman yang selaras maka tidak menutup kemungkinan negara lain akan menilai benar bahwa Indonesia merupakan negara maju dengan karakteristik toleransi yang tinggi. Hal ini otomatis akan menghilangkan  bentuk dan tindakan intoleransi dalam segala aspek baik sosial, budaya, adat istiadat, bahasa maupun agama.

Salahsatu dampak negatif intoleransi dari segi agama adalah terjadinya perpecahan antar umat beragama atau lebih miris lagi perpecahan antar umat Islam yang disebabkan kurangnya sikap tenggan rasa dan saling menghormati. Kita  seharusnya tidak membiarkan perang jamal dan siffin (perang persaudaraan) terulang kembali hanya gara-gara hal kecil. Umpamanya ada dua pihak beda ormas, pihak satu enggan menerima dakwah atau nasihat kebaikan pendakwah yang tidak satu organisasi dengannya. Sungguh hal demikian sikap yang tidak terpuji. Padahal selama masih mengingatkan kebaikan maka terimalah dengan lapang dada. Selama isi ceramahnya tidak mengandung unsur caci maki dan mudah menyalahkan pendapat pendakwah lain tanpa tahu dasarnya maka pahamilah dan ambil hal yang baik. 

Sudah seharusnya kita warga Indonesia harus berperan aktif, kerja keras dan pantang menyerah menciptkan dan mempertahankan persatuan bangsa. Kontribusi nyata pelajar dalam membangun Indonesia lebih baik sangat dibutuhkan tanpa selalu mempermasalahkan kebhinekaan.

Oleh karena itu, kita sebagai pelajar putri Nahdlatul Ulama harus berusaha belajar merawat kebhinekaan baik di dunia nyata atau maya. Berikut ini beberapa cara nya: 

1. Tidak ikut serta menyebarkan berita hoax yang tidak jelas sumbernya dan mengandung unsur diskriminasi satu pihak sehingga timbul perpecahan dan permusuhan.

2. Tabayyun dalam memfilterasi berita elektronik maupun non elektronik.

3. Tidak secara langsung menghakimi suatu permasalahan keberagaman yang ada di Indonesia.

4. Saling mengenal dan memahami keberagaman kemudian saling berbagi pengetahuan tentang keberagaman tersebut.

5. Berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan suku, budaya dan agama.

6. Berfikir luas dalam menghadapi keberagaman pemikiran far’un (cabang).

7. Berfanatik faham untuk mencegah fanatik buta

Demikian cara yang bisa kita lakukan. Mari terus tanamkan kesadaran pada diri kita sendiri akan pentingnya saling menghargai dan menghormati sesama manusia. Kita sama-sama manusia dan sama-sama warga negara Indonesia. 

Tasikmalaya, 24 Oktober 2020/07 Robi'ul Awal 1442 H

Selasa, 22 September 2020

Hujan yang Dirindukan

 

Gambarkekinian.blogspot.com

Hujan yang Dirindukan

Dibalik namamu
Terdapat satu nama
Yang ikut berperan

Ialah Air
Turun dari langit
Tanpa menakar perbedaan

Kolam kering
Daun menguning
Semua menikmati air hujan

Perbedaan bukan halangan
Kita menanam kebaikan
Lalu,
Belajarlah dari air

Namanya tertutupi kata hujan
Namun tetap
Bergerak bersamaan
Memberi kemaslahatan

Ciptakan persaudaraan
Harmoni kebersamaan
Dia tak ego sendiri
Dia menuruti aturan Tuhan

Kita tahu,
Semua agama
Ajarkan kebajikan
Tebarkan kasih sayang

Lantas,
Ajaran siapa
yang membenci Rahmat-Nya?

Jadilah hujan yang dirindukan
Kala musim kemarau
Sudah menjemukkan!


Nadia Ulpah
Tasikmalaya, 22 September 2020

Jumat, 18 September 2020

Apakah Kita Wanita Setengah Bidadari?

Wajibbaca.com

Agama Islam merupakan satu-satunya agama samawi yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala. Didalamnya terdapat dua sumber hukum utama yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Kitab Al-Qur’an berisi pedoman hidup muslim dan muslimah. Sedangkan Hadits berperan sebagai penjelas ajaran-ajaran Al–Quran yang bersifat umum. Kedua sumber hukum tersebut bertujuan agar umat islam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat disertai keridhoan Allah SWT.. Dan diantara sekian banyak penjelasan hadits mengenai ajarannya, terdapat suatu aspek pembelajaran mengenai akhlak.

Kita selaku umat Islam harus senantiasa meneladani akhlak Rasulullah. Pernyataan tersebut diperkuat oleh dalil Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya “bahwasanya telah ada pada diri rasul suri tauladan yang baik”.

Ternyata di zaman modern ini, umat Islam khususnya para muslimah sedang mengalami krisis akhlak. Masalah tersebut dikarenakan prilaku mereka terkontaminasi oleh prilaku orang-orang barat yang bebas tanpa aturan sehingga otomatis akhlak merekapun tidak sesuai lagi dengan ajaran yang diperintahkan Al-Qur’an dan Hadits.  misalnya seorang muslimah yang sibuk mempercantik diri dengan berbagai macam produk kosmetik mulai dari yang standar hingga yang mahal sehingga karena kesibukannya itu cara untuk mempercantik dalam diri (inner beauty) terabaikan atau terlupakan. Alhasil kecantikan luar diri lebih unggul daripada kecantikan dalam diri.

Memang penyusun juga seorang muslimah yang sebaiknya suka mempercantik diri dan tidak menafikan bahwa cara mempercantik diri merupakan suatu hal yang sangat penting bagi wanita bukti rasa syukur wanita kepada Sang Pencipta. Di sisi lain Islam juga mengajarkan bahwasanya Allah Subhanahu Wata’ala ialah dzat yang indah dan menyukai keindahan. Salahsatu pengamalan ajaran tersebut yaitu dengan cara mempercantik luar diri dan tentu saja diiringi dengan berusaha juga mempercantik hati.

Oleh karena itu, penyusun termotivasi menulis tulisan ini dengan harapan agar kita senantiasa selalu saling mengingatkan kebaikan dalam rangka memperbaiki kualitas pribadi diri menuju insan Rabbani yang mulia dihadapan-Nya. Apakah kita Wanita Setengah Bidadari?

CIRI-CIRI WANITA SHALEHAH
Beberapa ciri seorang wanita shalehah diantaranya:

WANITA YANG BESAR CINTANYA
Cinta adalah salah satu misteri yang bisa memberikan “sesuatu” kepada orang yang sedang terlibat di dalamnya. Sesuatu itu bisa berupa kebahagiaan, kekuatan, pengorbanan, perhatian, senyuman, kerinduan, gelisah, duka kecewa, marah, dan banyak lagi. Orang yang mencintai seseorang atau sesuatu, bisa jadi dia akan rela melakukan banyak hal tapi seandainya tidak tumbuh cinta di dalam hatinya niscaya orang tersebut tidak akan pernah mau melakukannya, bahkan walau sekedar untuk memikirkannya.

Meskipun cinta adalah fitrah bagi manusia, namun manusia tidak bisa seenaknya menebar cinta yang berselimut syahwat kepada setiap lawan jenisnya, karena Islam sudah membungkus cinta antara dua orang yang berlainan jenis dengan sebuah wadah yang indah yang dinamakan nikah.
لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَبَّيْنِ مِثْلُ النِّكَاحِ
“Tidak telihat hubungan yang demikian dekat di antara dua orang yang saling mencintai yang bisa menyamai hubungan yang terjalin karena pernikahan.“
(HR.Ibnu Majjah )

Setiap orang dianugerahi cinta yang dengannya bisa merasakan betapa nikmatnya saat “terlibat” di dalamnya. Cinta seseorang terhadap kedua orang tua membuatnya bahagia saat keduanya bangga kepadanya, tersenyum saat keduanya bahagia, dan membuatnya merasa tepukul saat keduanya harus pergi menghadap Allah SWT, meninggalkannya. Cinta seseorang terhadap sang khalik memberinya kekuatan untuk meninggalkan aktivitasnya demi menjalankan pengabdiannya kepada-Nya. Menahan lapar untuk berpuasa. Menyisihkan sebagian pendapatannya untuk berbagi atas namaNya. Menyebut namaNya saat mendapat keikmatan atau mendapat musibah. Semua karena cinta.

Oleh karena itu, alangkah beruntungnya kalau wanita calon pendamping seorang laki-laki adalah wanita yang besar rasa cintanya, karena besarnya rasa cinta itu akan mampu menutupi banyak kekurangan yang ada pada diri pasangannya. Besarnya cinta itu akan mampu mencegah kata-kata maupun perbuatan yang sekiranya akan menyakiti hati pasangannya, karena sebuah siksaan baginya manakala orang yang dicintainya teluka hati karena ucapan atau perbuatannya.
تَزَوَّجُوْا الوَدُوْدَ الوَلُوْدَ   
“Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang lagi subur “.

Kebesaran cinta dari wanita yang menjadi pendamping hidup adalah nikmat  yang besar dari Allah Subhanahu Wata’ala bagi seorang laki-laki, karena wanita mulia itu akan rela mengorbankan kepentingan dirinya,membuang jauh egonya manakala suaminya sedang lebih dibutuhkan Allah Subhanahu Wata’ala untuk membantu hamba yang lain, misalnya. Atau untuk menuntut ilmu, mencari nafkah atau jihad fisabilillah, beramar ma’ruf nahi munkar, dan seabrek kegiatan lain yang kesemuanya untuk memperoleh ridha Allah Subhanahu Wata’ala.

Akan lebih beruntung lagi kalau kebesaran cinta itu bisa tebungkus keridhaan Allah, karena wanita mulia itu akan mendasarkan berbagai hal atas keridhan allah dan rasa cintanya yang besar itu di buktikan dengan perbuatan sederhana karena wanita mulia itu tidak ingin rasa cinta kepada suaminya berakhir dengan perceraian. Hal tersebut sesuai hadits yang berbunyi :
اَحْبِبْ حَبِيْبَكَ حَوْنًا مَا عَسَى اَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا 
اَبْغِضْ بَغِيْضَكَ حَوْنًا مَا عَسَى اَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمًا مَا 
“Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, mungkin suatu saat dia akan menjadi muauhmu. Bencilah seseorang sesederhana mungkin, mungkin suatu saat dia akan menjadi kekasihmu.

WANITA YANG MENYUKAI ILMU
Wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki dalam hal keilmuan, karena ilmu adalah sarana untuk meraih banyak hal tanpa mengenal jenis kelamin.
مَنْ أَرَادَالدُّنْيا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
وَ مَنْ أَرَادَالْاَخِرةَ فَعَلَيْهِ بِالعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَهُما فَعَلَيْهِمَابِالْعِلْمِ
“Barangsiapa menginginkan dunia, maka untuk meraihnya raihlah denganilmu. Dan barangsiapa menginginkan akhirat, maka untuk meraihnya raihlah dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya, maka untuk meraihnya raihlah dengan ilmu pula. “

Oleh karena itu, tepat sekali kalau Islam mewajibkan setiap individu baik laki-laki maupun wanita untuk menuntut ilmu. Pasalnya, orang berilmu mempunyai banyak kelebihan baik di hadapan makhluk lain maupun dalam pandangan Allah Subhanahu Wata’ala.
...يَرْفَعِ اللهُ الّذِيْنَ ءَامَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّلذِيْنَ أُتُواْالْعِلْمَ دَرَجَاتٍ(11)
“ Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat... “ (QS. Al- Mujaadilah :11)

Bahkan, bisa jadi merupakan kedzaliman apabila seseorang melakukan sesuatu atau mengikuti keinginannya tanpa melibatkan ilmu. Seperti seorang ibu yang mengobati anaknya yang sedang sakit tanpa ilmu dan pengetahuan, bisa jadi apa yang dia lakukan justru akan membahayakan anaknya.

“Tetapi orang-orang yang dzalim, mengikuti keinginannya tanpa ilmu pengetahuan...” (Ar-Rum:29)

Wanita yang menyukai ilmu adalah wanita setengah bidadari yang pantas didambakan oleh setiap laki-laki untuk menjadi pendamping hidpunya. Sebab, wanita mulia itu akan menjadi mitra yang menyenangkan dalam usaha seorang suami untuk selalu menambah perbendaharaan pengetahuan. Wanita yang menyukai ilmu akan dengan senang hati memberikan kesempatan kepada suaminya menuntut ilmu ke segala tempat untuk kemudia berharap akan mendapat bagian dari ilmu yang didapat suaminya, tidak justru melarang suaminya dan lebih memilih mengajaknya (menuntutnya) untuk bersenang-senang. Sebaliknya, saat dia mendapatkan kesempatan untuk menuntut ilmu, maka dia juga akan senang berbagi dengan suaminya. Wanita mulia tersebut tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diperolehnya untuk menambah ilmu, karena dia menyadari sungguh akan menjadi penyesalan di akhirat kelak ketika mendapatkan kesempatan untuk mencari ilmu tetapi dia sia-siakan.
اَشَدُّ النّاسِ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَا مَةِ رَجُلٌ أَمْكَنَهُ طَلَبُ الْعِلْمِ فِي الدُّنْيَا فَلَمْ يَطْلُبْهُ 
“ Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah seseorang yang mendapat kesempatan untuk mencari ilmu (agama) ketika hidup di dunia, tetapi ia tidak mencarinya. “ (HR. Ibnu Assakir dari Anas R.A)

Meskipun teks di atas ditujukkan kepada laki-laki, tetapi hadits tersebut juga mencakup bagi kaum wanita.
اَلمؤنثُ فَرْعٌ مّنَ المُذَكَّرِ (قائدة اصول الفقه)     
“ Wanita adalah bagian(cabang) dari laki-laki “ ( kaidah ushul fiqh )

Wanita yang menyukai ilmu akan bisa merasakan bagaimana nikmat yang dirasakan oleh hati dan akalnya saat bertambah ilmunya. Wanit mulia itu akan menyadari bahwa raga dan jiwanya juga memerlukan pemenuhan kebutuhan, salah satunya kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan. Karena itu, wanita mulia akan selalu menggunakan kesempatan untuk menamabah ilmu sebagai bentuk pemberian hak kepada jiwanya. Dan, kalau sudah begitu, maka rumah tangganya akan terasa dinamis dan hidup, tidak angker dan monoton karena tidak ada cahaya penerangannya.

Wanita yang menyukai ilmu akan selalu telihat berbeda kesehariannya karena wawasannya senantiasa bertambah dengan hidupnya pikiran, meskipun secara fisik tetap sama. Apalagi jika wanita mulia itu juga berusaha mengamalkan apa yang didapatnya, semakin komplitlah kebahagiaan itu. Akan selalu ada perubahan yang akan didapat oleh seorang suami darinya. Saat wanita itu mendapati ilmu bahwa bertutur kata manis dan menyenangkan hati orang lain, terlebih kepada suaminya, adalah perintah Allah, maka dia akan mulai menerapkannya.
Ilmu adalah sebuah keniscayaan bagi seorang hamba, karena dengannya seseorang meraih banyak hal. Oleh karena itu, saat ditawari antara harta, kekuasaan, dan ilmu, Nabi Sulaiman AS lebih memilih ilmu.
خُيِّرَ سُلَيْمَا نُ بَيْنَ الْمَا لِ وَالْمُلْكِ وَالْعِلْمِ فَا خْتَارَ الْعِلْمَ فَاُعْطِيَ الْمُلْكَ وَالْمَالَ         
“Nabi Sulaiman disuruh memilih antara hata benda, kerajaan, dan ilmu. (Dia) memilih ilmu, dan pada akhirnya dia diberi juga (mendapat) kerajaan dan harta benda.”  (HR. Ad-Dailami)

Wanita yang menyukai ilmu adalah anugerah indah bagi suaminya, karena apa yang dilakukan wanita mulia tersebut selalu berlandaskan ilmu, tidak hanya ikut-ikutan belaka. Lebih dari itu, wanita yang giat menuntut ilmu secara tidak langsung merupakan bentuk pertolongan kepada suaminya yang bertanggung jawab atas kebaikan dunia dan akhirat seluruh anggota keluarganya, termasuk perolehan akan ilmu. Sebagaimana tanggung jawab yang diperlihatkan oleh Rasulullah SAW. Kepada Hafshah yang telah mendatangkan guru kepadanya untuk mengajari tulis-menulis.
Dari Asy-Syifa’ binti Abdullah, “Rasulullah SAW. Menemuiku ketika aku sedang berada di rumah Hafshah. Beliau bersabda : ‘ Mengapa kamu tidak mengajarkan Hafshah sesuatu sebagaimana kamu mengajarinya tulis-menulis ? “ (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Hadits diatas, selain menunjukkan bahwa seseorang diperintahkan menjauhi suatu perbuatan yang tidak berguna dan tidak bemanfaat, mengandung sebuah pembelajaran betapa belajar itu sangat penting, tidak terkecuali bagi ibu rumah tangga atau seorang wanita ( yang di dalam hadits tersebut adalah Hafshah salah satu isteri Rasulullah)

Wanita yang menyukai ilmu selain luas wawasannya dan menjadi cerah pikirannya, dia juga akan mempunyai banyak kesempatan untuk meraih banyak kebajikan, yakni dengan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Itu merupakan sedekah baginya, karena salah satu sedekah yang utama adalah seseorang belajar suatu ilmu kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

أَفْضَلُ الصَّدَقةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمهُ اَخَا هُ الْمُسْلِمَ                     
“Sedekah yang paling utama adalah seorang Muslim belajar suatu ilmu kemudian mengajarkannya kepada saudara Muslim lainnya. (HR. Ibnu Majjah )

YUK JADI MUSLIMAH PRODUKTIF!
Ada pernyataan yang mendalam yang disampaikan oleh  Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang mengatakan  : “Wanita adalah setengah dari masyarakat yang melahirkan setengah lainnya sehingga seolah-olah mereka adalah seluruh masyarakat”.

Jika wanita membentuk hampir seluruh masyarakat, muslimah harus berjuang untuk menjadi produktif dalam hidup ini.
Berikut ini beberapa cara untuk menjadi muslimah yang produktif, diantaranya :

1. Merencanakan Waktu Secara Efektif
Salah satu hal pertama yang Muslimah produktif harus lakukan adalah merencanakan waktunya secara efektif. Ini termasuk penjadwalan waktu untuk belajar, bekerja beribadah dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Perkataan yang mendalam dari seorang ulama besar, Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah tentang kegunaan memanfaatkan waktu dengan baik : “Jika Allah menginginkan kebaikan untuk hambaNya, Dia menolongnya dengan waktu dan membuat waktunya sebagai penolong baginya“.

2. Fokus Pada Kualitas Bukan Kuantitas
Ada sebuah hadits mengatakan bahwa umat Islam perlu berusaha menyempurnakan tugas apapun yang telah dimulai. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :“ Allah subhanahu wata’ala menyukai ketika engkau melakukan sesuatu, engkau lakukan dengan baik.“ (HR. Muslim)

Seorang muslimah dalam memulai aktivitas apapun, selalu mengingatkan diri sendiri bahwa kualitas lebih difokuskan daripada kuantitas. Lebih baik unggul disatu tempat seperti menulis atau menjadi ibu yang baik, daripada melakukan pekerjaan yang biasa-biasa saja dengan fokus pada terlalu banyak hal. Seorang Muslimah produktif selalu berusaha untuk unggul dalam apa yang ia lakukan dan tidak puas dengan yang biasa-biasa saja.

3. Melakukan Yang Terbaik
Wanita yang paling inspiratif dari isteri-isteri Rasul yang menjadi Muslimah produktif salah satunya ialah  Siti Khadijah yang merupakan seorang wanita pebisnis sukses. Memberikan yang terbaik untuk peran dan tugas yang ada ditangan membutuhkan fokus dan untuk mengeluarkan energinya hanya fokus kepada tugas yang ada ditangan.

4. Bertakwa Kepada Allah Subhanahu Wata’ala
Di samping perjuangan dan usaha, muslimah produktif harus sadar bahwa keberhasilan akan datang dari Allah yang berfirman dalam Al-Qur’an : “ Dan bertakwallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.“ (QS :5:23)

Meningkatkan produktifitas spiritual adalah bahan rahasia untuk menjadi sukses. Sebagai seorang muslimah haruslah bekerja keras, memberikan kontribusi kepada masyarakat dan merencanakan waktu secara efektif. Selanjutnya menempatkan kepercayaan kepada Allah dengan selalu memohon kepadaNya untuk menolong dalam mencapai keberhasilan teringgi dalam kehidupan ini dan akhirat.

KUNCI MERAIH KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT

1. Kunci Kemuliaan Adalah Taat Kepada Allah Dan Rasulnya
Sumber kemuliaan dimuka bumi ini adalah Allah dan RasulNya. Allah-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, sedang Rasulullah adalah hambaNya yang paling dimuliakan.

Bagi manusia, kunci kemuliaan hidup adalah dengan taat kepada Allah dan RasulNya. Allah memiliki Al-Quran berisi perintah dan petunjuk hidup untuk dijalani. Rasulullah memiliki sunnah (hadits) yang harus kita ikuti.

Sesorang yang taat kepada Allah dan Rasul akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Buah dari ketaatan tersebut aka.n memancarkan kebaikan dan kebaikan yang lebih baik, dia mulia bagi manusia yang lain, juga mulia bagi makhluk yang lain.

Bentuk keta'atan kepada Allah dan Rasul harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang muslimah yang baik, kita harus menjalankan keislaman kita dengan sebaik-baiknya, menjaganya agar tetap utuh dan mengembangkannya agar lebih cantik.
Ketaatan kepada Allah dan RasulNya akan menumbuhkan iman yang kokoh. Yang tak pernah goyah diterpa apapun. Iman mendorong seseorang untuk mencintai Allah dan RasulNya. Karena itu, orang yang taat harus menjaga iman dan keislamannya dengan baik.

Untuk dapat menyempurnakan keislaman dan keimanan, seseorang harus memiliki sifat ihsan. Ihsan adalah pengingat untuk selalu baik, ihsan adalah benteng untuk tetap kokoh, ihsan adalah jalan untuk selalu taat dan tunduk kepada Allah.

Hal lain, bentuk taat kita pada Allah tercermin pada hadits dibawah ini :
Dari Umar bin Khathab RA, ia berkata : “ Pada suatu hari ketika kami sedang duduk disamping Rasulullah tiba-tiba datang seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya tanda-tanda sehabis melakukan suatu perjalanan. Tidak seorangpun diantara kami mengetahuinya, lalu ia duduk di hadapan Nabi SAW lalu menempelkan kedua lututnya pada lutut nabi dan meletakkannya kedua telapak tangannya diatas paha Nabi. Dan ia berkata : “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang islam.” Rasulullah menjawab, “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji jika kamu mampu menempuh perjalanan kesana.” Laki – laki tersebut berkata : “ Engkau benar,’ Kami heran kepada laki-laki itu, dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkan. Laki-laki itu berkata : “ Beritahukan kepadaku apakah iman itu.’ Rasulullah SAW menjawab.”Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar ( ketentuan ) baik dan burukNya, ia berkata , “ engkau benar “. Ia berkata, “ Beritahukanlah kepada kami tentang ihsan .” Nabi menjawab,” Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya dan meskipun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Ia berkata,” engkau benar.” Ia berkata,” Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.” Nabi menjawab,“ orang yang ditanya tentang hari kiamat tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.“ Ia berkata,“ Beritahukanlah tanda-tandanya.“ Rasul menjawab :“seorang budak melahirkan majikannya, dan orang yang tadinya miskin, tidak beralas kaki, tidak berbusana, penggembala, lalu berlomba-lomba didalam membangun.“ Kemudian orang itu pergi. Aku terdiam cukup lama. Kemudian Rasulullah bertanya, “ Hai Umar, tahukah kamu siapa yang tadi bertanya ?“ aku menjawab, Allah dan RasulNya yang lebih tahu.“ Sesungguhnya dia adalah Jibril. Ia datang kepada kalian untuk mengajar kalian.“

2. Kunci Surga Adalah Tauhid ( Meng-Esakan Allah )
Dunia hanya tempat persinggahan, sedang di akhirat kita hidup kekal abadi. Dunia adalah masa dimana kita mengumpulkan bekal untuk akhirat. Dunia hanya tempat” menanam” kebaikan, sedang di akhirat adalah tempat menuainya.

Berbekal untuk akhirat, adalah keniscayaan yang harus kita lakukan. Sehingga, ketika kita melakukan kegiatan di dunia ini, bukan semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan di dunia saja.

Hidup di dunia merupakan awal kehidupan kita di akhirat. Tujuan hidup kita adalah ke surganya Allah. namun, menuju ke surganya Allah tidaklah mudah, perlu bekal amal kebaikan yang banyak, perlu usaha yang keras, harus rajin beribadah, bersikap istiqomah, barulah kita bisa memperoleh indahnya surga.

Allah berfirman : “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah kedalam surga-Ku.” (QS Fajr : 27)

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, namun yang paling utama adalah tauhid kita kepada Allah. Tauhid adalah persepsi dan kepercayaan kita kepada Allah. Surga hanya diisi oleh orang-orang yang bertauhid kepada Allah.

Secara sederhana, tauhid dapat diartikan jalan seorang hamba yang meng-Esakan Allah. Allah itu maha Esa. Tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak ada yang seperti Dia, tidak ada sekutu daam Dzat, sifat, perbuatan, perintah, atau nama-namaNya yang indah.

Dialah yang Esa dalam dzatNya. Semua yang lain adalah makhluk ciptaanNya. Dikalangan makhlukNya, terlebih oleh manusia, tanda atau simbol dari sifat-sifatNya dapat diterlihat, ini agar kita dapat merasakan arti sifat-sifat allah yang menguatkan iman kita.

Dialah yang Esa didalam perbuatanNya. Dia tidak membutuhkan pertolongan dalam tindakanNya mencipta, atau dalam mengerjakan apa yang dikehendakiNya terhadap makhlukNya.
Dialah yang Esa dalam perintah dan didalam keadilanNya. Dialah satu-satunya sumber pahala, adzab, amal sholeh atau dosa. Selain dia tidak ada yang berhak mengatakan,” ini benar, ini salah, ini halal, ini haram.” Dialah yang Esa dalam namaNya yang indah, tidak ada yang dapat disifati dengannya selain Dia. Siapapun yang mempersamakan sesuatu yang lain denganNya adalah berdosa dengan dosa yang tidak dapat dimpuni-yakni menyekutukan Dia dengan sesuatu yang lain. Dialah satu-satuNya yang berhak disembah. Ke-EsaanNya tidak dapat dibagi-bagi.

3. Kunci Iman Adalah Merenungkan Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Dan Makhluk-Makhluk Ciptaan Allah.
Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah,katakanlah kepadaku tentang islam,satu perkataan    yang tidak aku tanyakan kepada selain dirimu.”  Rasulallah bersabda : ‘katakanlah,”aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah.” (HR. Muslim)

Kita harus teguh di atas keimanan dan istiqomah di atas syari’at allah,karena keimanan kepada Allah mendahului ketaatan-ketaatan yang lain,dan amalan-amalan yang shaleh akan memelihara keimanan, karena itu, milikilah keimanan dan amal shaleh.

Dalam hadis lain, Rasulallah bersabda: “tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai kepada saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri .” (HR Bukhari Muslim)

Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mengangakan untuk saudaranya seperti apa yang diangankan untuk dirinya sendiri. Kita harus mencintai kebaikan untuk saudara muslim sebagaimana mencintai kebaikan untuk diri sendiri, dan membenci keburukan bagi saudara muslim sebagaimana membenci untuk dirinya sendiri.

Tanda- Tanda Kekuasaan Allah
Allah berfirman : “ Apakah kamu melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau. Sesungguhnya Allah MahaHalus lagi MahaMengetahui. Kepunyaan Allah-lah segala yang ada dilangit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhNya Allah benar-benar MahaKaya lagi MahaTerpuji”.

Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada dibumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintahNya. Dan Dia menahan benda-benda langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izinNya ? sesungguhnya Allah mahaPengasih lagi Maha penyayang kepada manusia. Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu lagi, sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.
“Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan ( syariat) ini dan serulah kepada ( agama ) TuhanMu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj)

Allah-lah yang membuat dan menciptakan alam semesta beserta isinya, sekaligus mengatur dan menentukan keadaan, kondisi, dan rezeki bagi semua makhlukNya. Dia mencipta sesuai kebutuhan makhluk yang ada didalamnya, keselarasan, kesejahteraan dan keharmonisan ekosistem bagi manusia, tumbuhan, hewan dan alam.
Segala sesuatu diciptakan dalam kebaikan dan kebijaksanaan, sesuai dengan tatanan yang sempurna ini, segala sesuatu mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Syekh Bayrak Al-Jerrahi menuliskan : “Allah tidak membuuhkan penciptaan dan tidak mendapatkan manfaat apapun dariNya. Mungkin yang menjadi alasan bagi penciptaan adalah bahwa dengannya Dia dapat meneguhkan kebesaran dan kekuasaanNya yang abadi, dan melihat keindahan srta kesempurnaanNya sendiri. Allah berfirman : “ aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka kuciptakan makhluk.”
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna harus mengetahui bahwa Allah telah menciptakan segalanya bagi manusia dan menciptakan manusia bagi diriNya sendiri. Semua makhluk, dan tatanan yang menyertainya merupakan manfaat dan hikmah. Orang harus menemukan manfaat dan hikmah ini, menggunakannya dan merasa beruntung karena menjadi bagian dari pencipaan ini.


Jadi, bisa kita tarik benang merah bahwa muslimah shalehah adalah wanita yang besar cintanya kepada suaminya, keluarga, teman sejawat bahkan kepada Sang Khalik dan RasulNya yang di buktikan dengan ketaatan dan ketakwaan. Muslimah shalehah adalah wanita yang menyukai ilmu pengetahuan karena dengannya harkat martabat seorang wanita dimuliakan di hadapan makhluk lain atau di hadapanNya. Bahkan dengan memiliki ilmu yang tinggi disertai pengamalan istiqomah dalam kehidupan sehari-hari mampu menghantarkan wanita shalehah tesebut kedalam nikmatnya kehidupan surga.

Adapun muslimah produktif adalah wanita yang mengisi waktu hidupnya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Sebagian kunci meraih kebahagiaan dunia dan akhirat adalah taat kepada Allah dan RasulNya, meng-EsakanNya dan Merenungkan tanda- tanda kekuasaan-Nya di muka bumi ini.

Rasulullah bersabda  :
تَفَكَّرُوا فِى خَلْقِ اللهِ وَلاَ تَتَفَكَّرُوا فِى ذاتِ الله
“ Berfikirlah kalian tentang penciptaanNya dan janganlah kalian berfikir tentang dzatNya”.

Kita para muslimah sebaiknya senantiasa berdo’a dan berusaha seoptimal mungkin untuk merealisasikan akhlak setengah bidadari kemudian setelah itu bertawakal kepada Dzat yang berkuasa mengubah (diri) suatu kaum menjadi lebih baik.
QS Ar-Ra’du :11
إنّ الله لا يُغَيِّرُما بقومٍ حتّى يُغيِّروا ما بِاَ نْفُسِهمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum tersebut merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(QS Ar-Ra’du :11)

APAKAH KITA WANITA SETENGAH BIDADARI?

Tasikmalaya, 18 September 2020

DAFTAR PUSTAKA

Al Jauziyyah, Ibnu Qoyyim, Pengaruh Dosa & Maksiat Terhadap Manusia, Solo: Pustaka Arafah, Mei 2003.

Jamil Zainu, Muhammad, Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat, Jakarta: Akafa Press, Agustus 1998.

Kamil, Maeft, Pedoman Bagi Wanita Muslimah, Jakarta: Ditjen Kelembagaan Agama Islam Depag `RI, Januari 2002.

Khalil Jam’ah, Ahmad, Tujuh Puluh Tokoh Wanita dalam Kehidupan Rasulullah, Jakarta: Darul Falah, April 2004.

Al-Bantani, Imam Nawawi, Nashaihul ‘Ibad, alih bahasa Fuad kauna, cet.10, Bandung : Irsyad Baitus Salam, 2005.

Al hasyimi, Sayyid Ahmad, Syarah Mukhtarul Ahaadits, pensyarah Much. Anwar dkk, cet.7 , Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2005.

Al-Mundziri, Imam, Ringkasan Shahih Muslim, alih bahasa Achmad Zaidun, cet.2, Jakarta : Pustaka Amani, 2003.

http://www.arrahmah.com/muslimah/10-tips-untuk-menjadi-muslimah-produktif.html&client=

Senin, 24 Agustus 2020

Teruntuk Kekasih Hati



Foto momen khitbah

Tetaplah menjadi sosok Rizal Fauzi Ridwan, S.H., M.H yang Nadia Ulpah cintai.

Yang penyayang
Yang perhatian
Yang cerdas
Yang sederhana
Yang tegas
Yang disiplin
Yang pekerja keras
Yang bertanggung jawab,

Meskipun atas dasar "naluri yang memilihmu" sebagai penyebab aku jatuh cinta.

Semoga kita bisa membangun keluarga Sakinah Mawaddah Rahmah wa Mubaadalah yang selalu dipenuhi cinta, kasih dan sayang. 

Semoga kita selalu bersama menanam kebaikan di dunia untuk dituai di akhirat.

Semoga terlahir generasi Islami yang adabnya mulia.

Semoga kita berdampingan hingga keabadian-Nya, 

Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin..

(Menuju pernikahan)

Tasikmalaya, 24 Agustus 2020 M

Rabu, 22 April 2020

Siapakah Ulama Penyusun Shalawat Thibb al-Qulub?

Siapakah Ulama Penyusun Shalawat Thibb Al-Qulub?


Sumber: Infopena.com

Semenjak wabah virus Corona melanda Indonesia, para ulama nusantara menganjurkan beberapa bacaan yang sebaiknya perlu diamalkan oleh umat Islam sebagai bentuk upaya syari'at rohani memohon kepada Allah SWT agar kita semua bisa selamat dari penyakit dan wabah termasuk wabah Corona yang mengancam nyawa umat manusia. 

Sesuai instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama diantara bacaan amalan yang dimaksud ialah shalawat thibb al-qulub. Shalawat yang  berarti shalawat penawar hati berisi untaian kalimat-kalimat do'a harapan.

Lantas, siapakah ulama yang menyusun shalawat thibb al-qulub?

Shalawat ini disusun oleh al-Imam Abu al-Barakat Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Hamid al-Adawi al-Mishri al-Azhari al-Maliki, terkenal dengan panggilan al-Dardir. Ia dilahirkan di perkampungan Bani 'Adi, salah satu suku Quraisy yang menempati Sha'id (dataran tinggi) Mesir, pada tahun 1127 H/1715 M. Dari segi sejarah, nasab al-Dardir bersambung kepada Sayyidina Umar bin Al-Khaththab RA, khalifah kedua umat Islam. Julukan al-Dardir diperoleh, ketika ada suku Arab singgah di perkampungan Bani 'Adi, pemimpin mereka terkenal sebagai ulama yang baik dan dipanggil al-Dardir. Syaikh al-Dardir dipanggil dengan julukan ulama tersebut karena bertujuan tafaul, yaitu berharap mendapatkan keberkahan dan kemuliaan seperti beliau.

Pada masa kecilnya, al-Dardir telah menghafal al-Qur'an dengan baik. Ia juga sangat rajin dalam menuntut ilmu. Lalu melanjutkan belajar ke al-Jami' al-Azhar dan rutin menghadiri perkuliahan para ulama besar. Menimba berbagai disiplin ilmu dan mulazamah (mengikuti pelajaran secara rutin dalam waktu yang lama) kepada Syaikh Ali al-Sha'idi al-'Adawi, ulama terkemuka madzhab Maliki. Disamping juga belajar kepada Syaikh Ahmad al-Shabbagh, al-Malawi dan al-Hifni. Dari al-Hifni, al-Dardir memperoleh tarekat tasawuf dan kemudian mengantarnya menjadi pembesar tarekat Khalwatiyah.

Setelah mencapai puncak dalam keilmuannya, al- Dardir mengajar di al-Azhar, dan menjadi guru besar ruwaq (asrama) para pelajar dari Sha'id, tempat asal kelahirannya. Di antara murid-muridnya yang sangat populer adalah Syeikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Arafah al-Dusuqi, dan Syeikh Abu al-'Abbas Ahmad bin Muhammad al-Shawi, penulis Hasyiyah al-shawi 'ala Tafsir al-Jalalain dan lain-lain.

Al-Dardir juga meninggalkan banyak karya kitab yang menjadi rujukan para ulama dan pelajar sampai saat ini. Antara lain Syarah Mukhtashar Khalil dan Aqrab al-Masalik li Madzhab al-Imam Malik, dalam bidang fikih Maliki. Al-Kharidah al- Bahiyyah fi 'ilm al-'Aqaid al-Daniyyah dalam bentuk nadham dan diberi syarah oleh beliau sendiri, dalam bidang ilmu tauhid. Kitab ini sangat populer di Nusantara dan menjadi kajian banyak pesantren.

Al-Dardir diberi julukan Syaikh al-Islam wa Barakah al-Anam (mendatangkan keberkahan kepada manusia), karena keunggulannya dalam berbagai bidang ilmu rasional dan tradisional. Beliau juga seorang sufi yang zuhud, berani berbicara benar kepada siapapun, selalu mencegah kemaksiatan dan kemungkaran. Beliau juga tidak takut kepada penguasa maupun tokoh. Hatinya bersih, jiwanya mulia dan budi pekertinya luhur. Setelah gurunya, Ali al-Sha'idi meninggal dunia, al-Dardir diangkat sebagai penggantinya sebagai guru besae Madzhab Maliki.

Al-Dardir R.A wafat pada tanggal 6 Rabi'ul awal 1201 H/ 27 Desember 1786 M, setelah sakit selama beberapa hari.

Demikianlah riwayat singkat ulama yang begitu berjasa mewariskan shalawat thibbil qulub yang tentu memiliki banyak nilai kebermanfa'at disebabkan oleh barakah penyusunnya. Mari kita terus membaca dan mendawamkannya!

Tabaarakallahu lahu wa lana, Aamiin..

Wallahu 'alaam.


Sumber literatur
Buku Dalil dan Khasiat 5 Shalawat Populer (Nariyah, Munjiyat, Fatih, Thibb al-Qulub dan Istighatsah halaman 172, penulis Muhammad Idrus Ramli.

Rabu, 08 April 2020

Sayyidah Nafisah Cicit Rasul Guru Imam Syafi'i

Sayyidah Nafisah binti Hasan
Foto: Pecihitam.com

Sayyidah Nafisah binti Hasan merupakan perempuan takwa nan shalehah. Perempuan ahli ibadah yang zuhud,  Beliau juga ulama perempuan ahli tafsir dan hadis; Sayyidah Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib berasal dari keturunan Rasulullah SAW (bani Hasyim suku Quraisy)

Beliau dilahirkan di kota Mekkah pada tahun 145 H. Kemudian beliau pindah ke Madinah dan semasa  hidup beliau dipandang sebagai perempuan baik yang suci. Ia menikah dengan Ishaq Al-Mu’tamin. Suaminya merupakan putra dari Imam Ja’far as-shidiq.

Selanjutnya beliau berangkat ke Kairo, Mesir dan menetap disana sampai menghembuskan nafas terakhir pada tahun 208 H. Beliau merupakan tokoh ulama perempuan terkenal di Kairo, Mesir.

Sebuah riwayat menceritakan bahwa Sayyidah Nafisah melaksanakan ibadah haji sebanyak 30 x. Beliau juga merupakan seorang hafidhah qur’an. Tidak sedikit para ulama yang mengunjungi beliau untuk belajar dan mengambil fatwa darinya karena beliau juga mumpuni mengenai  hadis. Dan diantara ulama yang menerima ilmu dari beliau adalah Imam Syafi’i. 

Diriwayatkan bahwasanya ketika tiba di Mesir, Imam Syafi’i mendapatkan inayah tentang Sayyidah Nafisah.  Singkat cerita, Sayyidah Nafisah menerima maksud baik Imam Syafi’i untuk belajar kepadanya. Terkadang, pada bulan Ramadhan Imam Syafi’i melaksanakan shalat berjama’ah bersama gurunya. Dan ketika Imam Syafi’i wafat, Sayyidah Nafisah ikut menyolatkan.

Sayyidah Nafisah merupakan perempuan hartawan, beliau senantiasa bersikap dermawan kepada orang lain. Beliau juga menjenguk orang sakit dan menolong orang yang membutuhkan. Beliau sosok perempuan yang banyak berbuat baik. Beliau mengajak kebaikan selagi hal tersebut meningkatkan nilai penghambaan dan kezuhudan. 

Al-Muarikh Al-Qudha’i meriwiyatkan bahwa Sayyidah Nafisah menggali kuburannya sendiri  di tempat beliau nanti dikuburkan; Para ahli sejarawan yang masyhur bersepakat mengenai penjelasan tersebut. Beliau wafat pada bulan Ramadhan 208 H.

Dalam kitab “Bidayatu Al-Nihayat” Ibnu Katsir berpendapat bahwa “Setiap orang perlu meyakini bahwa keshalehahan Sayyidah Nafisah tidak dapat dibandingkan dengan perempuan shalehah manapun.

Wallahu ‘alaam bisshawab



SUMBER BACAAN

Nushus 'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam, M. Ag. Buku tersebut memuat teks berbahasa Arab diatas yang tertulis dalam kitab Yasalunaka Fil din wa al-hayat karya Syeikh Ahmad Asyarbashi.

Jumat, 03 April 2020

Siti Fatimah dan Bulan Ramadhan

Fatimah Al-zahra
فاطمة الزهراء
Foto: Fimale.com

Pertanyaan:
Apakah benar bahwasanya Fatimah Al-zahra putri Rasulullah SAW tidak mengalami masa haid? 
Dan apa makna dari kata الزهراء ?

Jawaban:
Fatimah Al-zahra RA merupakan putri dari pasangan Rasulullah SAW dan Siti Khadijah RA Ummul mukminin. Sebagaimana Maryam RA, Fatimah dikenal sebagai tuan putri bagi semesta alam. Fatimah juga sosok istri dari Imam Ali RA Karamallahu wajhah. Penerus Keturunan Rasulullah SAW hanya dari Fatimah RA.

Kata الزهراء memiliki makna perempuan yang wajahnya berseri-seri dan berkulit putih. Kata الزهراء juga dapat diartikan awan putih. Surat Al- baqarah dan Ali Imron bisa dikatakan الزهراء karena kedua surat tersebut diibaratkan dua lampu yang menerangi.

Sebuah riwayat mengatakan  bahwa Rasulullah SAW ibarat warna mekar maksudnya berkulit putih tercerahkan.
Siti Fatimah RA wafat di bulan Ramadhan 11 H. 

Dan saya (Syeikh Ahmad Asyarbashi) belum menemukan referensi ilmiah yang menyatakan bahwa penamaan الزهراء  adalah argumen atas diri beliau yang tidak pernah haid.

Wallahu 'alaam bil-shawwab

SUMBER BACAAN

Nushus 'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam, M. Ag. Buku tersebut memuat teks berbahasa Arab diatas yang tertulis dalam kitab Yasalunaka Fil din wa al-hayat karya Syeikh Ahmad Asyarbashi.

Kamis, 02 April 2020

Siti 'Aisyah dan Bulan Ramadhan

Siti 'Aisyah RA
السيدة عائشة
Foto: Fimale.com

Siti 'Aisyah merupakan perempuan Al-shidiqah putri Abu Bakar Al-shidiq RA. Beliau sosok perempuan yang memiliki keterkaitan dengan bulan Ramadhan. Karena pada bulan tersebut beliau menghembuskan nafas terakhir tepatnya pada hari selasa 17 Ramadhan 58 H. Beliau adalah ummul mukminin yang terbebas (dari fitnah kebohongan) dengan kesaksian firman Allah SWT dalam Al-qur'an. Beliau  satu-satunya perawan yang dinikahi Rasulullah dan perempuan paling dicintai setelah Siti Khadijah RA.

Salah seorang sahabat pernah bertanya: "Wahai Rasulullah! Siapa orang yang paling engkau cintai?" Rasul menjawab: "'Aisyah". Sahabat tersebut bertanya kembali: "Saya menginginkan jawaban dari golongan laki-laki. Rasul menjawab: "Abu Bakar Al-shidiq, Bapak dari 'Aisyah".

Disamping itu, Siti 'Aisyah sosok perempuan yang lebih mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul-Nya daripada kesenangan hidup dan kemewahan dunia. Ada satu riwayat menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah masuk ke rumah Siti 'Aisyah seraya bertanya kepadanya: "Aku akan menawarkan kepadamu urusan sehingga engkau tidak perlu tergesa-gesa karena urusan tersebut sampai orangtuamu bermusyawarah denganku. Lalu Siti 'Aisyah bertanya: "Urusan apa yang Baginda maksud?" Kemudian Rasul membacakan firman Allah SWT (baca: QS. Al-Ahzab ayat 28-29)

Lalu Siti 'Aisyah menjawab: "Urusan yang mana yang baginda perintahkan kepadaku untuk bermusyawarah dengan orangtuaku? Bahkan aku ingin keridhaan Allah, Rasul dan kebahagiaan akhirat. Mendengar pernyataan tersebut, Rasul ullah merasa bahagia dan takjub kepada Siti 'Aisyah.

Siti 'Aisyah wafat pada usia 66 tahun. Beliau dipanggil kehadirat-Nya pada malam selasa 17 Ramadhan 58 H.  Sesuai wasiatnya, Beliau dikuburkan setelah shalat witir di Baqi'. Semoga Allah senantiasa meridhai dan memberkahi Siti 'Aisyah. Aamiin..

Wallahu 'Alaam bil Shawwab

SUMBER BACAAN
Nushush 'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam M.Ag yang memuat teks berbahasa arab tersebut yang tertulis dalam kitab Yas alunaka Fil Din wa Al-Hayat karya Syeikh Ahmad Al-Syarbashi.

Rabu, 01 April 2020

Saudara Sepupu Rasulullah SAW

IBNU ABBAS
عبدالله بن عباس
Foto: id. Wikipedia.org

Ibnu Abbas adalah seorang sahabat putra seorang sahabat;  putra paman Rasul sekaligus sahabat Rasul yakni ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas mendapat julukan “Tinta Umat” dan “Lautan Ilmu” disebabkan keluasan ilmunya. Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim berasal dari bani Hasyim, Mekkah. Ibunya bernama Lubabah binti Haris keturunan Hilaliyah. Ibnu Abbas dilahirkan tiga tahun sebelum Rasul hijrah. Ketika Rasul wafat, dia berusia tiga belas tahun. Rasul telah berdakwah kepadanya dengan ilmu atau hikmah dan mentahniknya dengan air ludah Rasul sendiri. Ketika dia dilahirkan, Rasul bersama kaum muslimin sedang mengalami pemboikotan dari kaum Quraisy di Mekkah.

Rasul mendekap Ibnu Abbas seraya berdo’a, “اللهم علمه الكتابة” Dalam riwayat Bukhari lafalnya seperti ini,”اللهم علمه الحكمة” Abdullah bin Mas’ud berkata,”نعم ترجمان القران ابن عباس.” Para pengembara dari seluruh penjuru dunia rela melancong untuk bertanya permasalahan agama kepada Ibnu Abbas. Sayidina Umar pun sangat menghormati dan lebih mementingkan Ibnu Abbas padahal usia Ibnu ‘Abbas masih muda. Kendati demikian, Ibnu Abbas masih hidup setelah kekhalifahan Umar sekitar 47 tahun. Beliau dijadikan rujukan keilmuan oleh orang-orang yang mendatanginya untuk meminta fatwa. Dia adalah salahsatu dari nama Abdullah yakni Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amr dan Abdullah bin Ash.

Ibnu Abbas telah meriwayatkan 1660 hadis Nabi. Dia merupakan salahsatu sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis. Berikut sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadis diantaranya Abu Hurairah, Ibnu Umar, Jabir, Ibnu Abbas, Anas dan Siti Aisyah RA. Dia adalah sahabat Nabi yang paling banyak mengeluarkan fatwa dan biasanya  hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas berasal dari Ibnu Umar dari Anas dari Abu Tufail dan dari Abu Umamah bin Sahl. Mayoritas ulama pun tidak ragu untuk mengambil riwayat dari para tabi’in.

Ubaidilah bin Abdullah bin Utbah berkata,” Sebelumnya tidak ada seorangpun yang lebih paham mengenai hadis Nabi daripada Ibnu Abbas. Keputusan yang diambil oleh Abu bakar, Umar dan Usman RA ada yang berasal dari gagasan Ibnu Abbas. Tidak ada yang lebih faqih daripadanya. Dia mengajarkan ilmu Al-qur’an dengan Bahasa arab, sya’ir, mantiq dan hukum waris. Sehari beliau mengajarkan fiqih, hari selanjutnya ta’wil kemudian sejarah bangsa Arab, sya’ir dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Jazirah Arab. Tidak ada orang berilmu yang duduk bersamanya kecuali tunduk hormat. Tidak ada orang yang bertanya kepadanya kecuali mendapat solusi darinya.” 

Sufyan bin Uyainah berkata,” Ada tiga zaman emas dalam peradaban manusia yaitu zaman Ibnu Abbas, Syu’ba dan Sufyan Tsauri. Sayyidina Ali pernah mempekerjakan Ibnu Abbas di Basrah kemudian dia meninggalkan Basrah sebelum pembunuhan Ali dan kembali ke Hijaz. Atha’ mendeskripsikan Ibnu Abbas dengan perkataan,” Saya tidak pernah melihat bulan tanggal 14 kecuali saya mengingat wajah Ibnu Abbas. Di pipi Ibnu Abbas tampak jelas bekas tetesan air mata disebabkan tangisan rasa takut dan takwa kepada Allah SWT.

Ibnu Abbas wafat di Thaif pada usia 68 tahun. Muhammad bin Hanifah yang menyolatkannya. Pada hari berduka itu, Muhammad berkata,” Hari ini adalah hari wafatnya seorang hamba ahli ibadah dari umat Islam. Ketika Ibnu Abbas hendak dikuburkan, orang-orang sekitar mendengar suara tanpa wujud membacakan ayat :
ياأيّتها النفس المطمئنّة * ارجعي إلى ربّك راضية مرضيّة * فادخلي في عبادي وادخلي جنّتي"



Wallahu A'laam Bil Shawwab

DAFTAR BACAAN

Buku Nushus 'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam M. Ag memuat teks berbahasa Arab tersebut yang tertulis dalam kitab Yasaluna Fil Din wa Al-Hayat karya Syeikh Ahmad Al-Syarbashi

Selasa, 31 Maret 2020

Siti Khadijah dan Bulan Ramadhan

السيدة خديجة
Siti Khadijah Al-Kubra

Foto: Fimale.com

Siti Khadijah merupakan tokoh bulan Ramadhan. Dia memiliki keterkaitan dengan bulan tersebut karena wafat pada tanggal sepuluh sekitar tahun ketiga sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah.

Siti Khadijah adalah ibu umat islam yang berkepribadian jujur, dia orang pertama dari seluruh manusia dunia yang meyakini agama Islam. Alangkah mulia dan agungnya dia, seorang istri Rasul di dunia dan akhirat. Semasa hidupnya, dia tidak pernah mendapati Rasul menikahi wanita lain. Dia rela mengorbankan apapun untuk Rasul, membela Beliau sebaik mungkin, seakan – akan sekertaris yang akan selalu membenarkan Rasul. Dan semua itu dia lakukan penuh keikhlasan 

Siti Khadijah berasal dari keturunan yang mulia. Sebelum Nabi diutus, orang – orang Quraisy mengenalnya dengan sebutan At – Thohiroh dan  disamping itu, dia diberi gelar sebagai pemimpin para wanita Quraisy. 
Dengan hati yang suci, dia merasa bahwa Allah SWT akan mempersiapkan seorang utasan yakni Muhammad untuk mengemban risalah yang agung, tanpa ada ambisi dan mengharap kesenangan lalu diapun menghadap Rasul untuk memeluk Islam. Dan disebabkan ada rasa suka terhadap diri Rasul kemudian dia mengajukan  lamaran pernikahan, dari situlah awal sebab Allah SWT menjadikannya sebagai pendamping hidup Rasul.

Ketika awal perkembangan Islam, Allah SWT telah mewajibkan sholat kepada Nabi SAW. Walaupun pelaksanaannya berlangsung secara sembunyi – sembunyi, Siti Khadijah RA selalu mendirikan perintah tersebut bersama Rasul serta Ali KW. Allah SWT berkendak memuliakan keturunan Nabi SAW dengan menganugerahkan anak – anak dari Siti khadijah yaitu Qosim, Abdullah, Zainab, Ruqoyah, Ummu Kultsum dan Fatimah kecuali Ibrahim. Sebagian dari keutamaan Allah SWT untuk Siti Khadijah ialah Allah SWT menjadikan Siti Fatimah Az – Zahra sebagai sebab penerus nasab Nabi sepanjang sejarah.

Pernikahan Siti Khadijah bersama Rasul berlangsung hampir seperempat abad dan dalam waktu yang lama itu, Siti Khadijah menyerahkan seluruh kesetiaannya kepada Rasul. Begitupun Rasul senantiasa setia kepadanya, mereka juga saling menumbuhkan rasa keikhlasan.

Setelah  Siti Khadijah wafat, Rasul selalu mengenangnya dan pada saat itu terkenal dengan istilah “Tahun Kesedihan” karena Rasul kehilangan isterinya Siti Khadijah dan pamannya yaitu Abu Thalib.



Wallahu A'laam Bil Shawwab

DAFTAR BACAAN
Buku Nushus Al'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam, M.Ag. Memuat teks berbahasa Arab tersebut  yang tertulis dalam kitab Yas aluna fil din wa al hayat karya Syaikh Ahmad Al-Syarbashi

Sabtu, 28 Maret 2020

Cinta Haqiqi

Puncak Cinta Untuk Baginda Rasul
منتهى الحب لرسول الله صلى الله عليه وسلم

Foto: Bangkitmedia.com

Abu Sofyan bertanya kepada Zaid bin Datsinah RA ketika hendak membunuhnya,”Demi pujian Allah, wahai Zaid ! apakah engkau berhasrat jika Muhammad berada di posisimu sekarang dan kami memenggal lehernya sedangkan kamu merasa aman bersama keluargamu ? Zaid menjawab,”Demi Allah saya tidak rela jika ada sebuah duri pun yang melukai Baginda sementara saya bersenang-senang bersama keluarga ! Abu Sofyan berkata,”Sebelumnya saya tidak pernah melihat kebesaran bukti cinta seorang manusia kepada sesamanya seperti bukti cinta para sahabat Muhammad kepada Muhammad.

Sejarawan membenarkan riwayat ini,” Kaum Quraisy menahan seorang muslim di suatu perang, mereka melangkah penuh keberanian ingin membunuh orang-orang muslim, kaum Muslim ditanya.”Apakah engkau  rida jika selamat dari pembunuhan sedangkan keselamatan Rasul terancam ? mereka menjawab,”Tentu tidak, kami tidak akan bahagia hidup nyaman andaikata Rasul merasakan sakit.

(Tidak ada ampun bagi kalian jika Baginda Rasul terluka). Ada sebuah riwayat : Akhir hayat Sa’ad bin Rabi’ bin Amr bin Abu Zuhairi. Dia adalah pemimpin golongan Anshor yang berjumlah 12 orang dan seorang sahabat Rasul yang ikut serta dalam perang Badar danUhud. Dia mengakhiri hidupnya di perang Uhud sebagai syuhada. Sejarah mengabadikan peristiwa agung ini sebagai akhir hayat yang mulia.

Zaid bin Tsabit RA berkata,”Baginda mengutus saya di perang Uhud untuk mencari Sa’id bin Rabi’. Beliau berpesan,”Jika kamu menemukan Sa’id, sampaikan salamku untuknya dan tanyakan bagaimana keadaannya. Zaid menjawab,”Siap, saya akan mulai menelusuri dia diantara korban yang terbunuh”. Selanjutnya saya menghampiri Sa’id dalam keadaan sekarat. Di tubuhnya terdapat 70  luka. Terdiri dari luka tusukan tombak, pedang dan lemparan panah. Saya berkata kepadanya :”Wahai Sa’id ! Rasul menitipkan salam untukmu dan menanyakan keadaanmu.” Sa’id menjawab :”A’laa Rasulullah As-salaam, sampaikan pada Beliau,”Wahai Rasul saya telah mencium wangi surga” Dan sampaikan pada golonganku yakni Anshor,”Tidak ada ampun bagi kalian jika Baginda Rasul terluka, sedangkan kalian masih hidup nyaman.” Saat itu juga Sa’id menghembuskan nafas terakhirnya.

Penulis (Syaikh Musthafa) menyimpulkan bahwa cinta mendalam para sahabat RA kepada Baginda Rasul tidak akan ada bandingannya. Bahkan mereka rela jarang mengingat istri, anak-anak, harta dan kerabatnya. Wasiat pertama dan terakhir mereka kepada keluarganya adalah pengorbanan demi Baginda Rasulullah SAW.



Wallahu A'laam Bil Shawwab

DAFTAR BACAAN

Kamus Al-Munawwir 

Kamus Al-Muntashir

Nushus Al-'Arabiyah penyusun Asep M. Tamam memuat teks Berbahasa Arab yang tertulis dalam kitab Shirah Al-Shabah karya Syaikh Musthafa Murad

Jumat, 27 Maret 2020

Hikmah dibalik Kisah 2

Hidup Penuh Kepayahan



Hidup tercipta penuh dengan kesulitan. Oleh karena itu, tetaplah berbahagia !

Pada dasarnya hidup adalah kesukaran sedangkan kegembiraan ialah perasaan yang tidak terduga, kesenangan juga adalah perasaan yang jarang. Sebenarnya di dunia ini ada kenikmatan, namun Allah SWT tidak meridhoinya karena para Walipun hidup stabil.

Andaikan dunia ini bukan tempat ujian, tentu  tidak akan ada problematika kehidupan. Para Nabi dan orang – orang pilihan tidak akan menderita kesempitan hidup. Namun ternyata Nabi Adam AS mengalami cobaan terusir dari surga kemudian dia diturunkan  ke dunia, Nabi Nuh AS dibohongi dan diolok-olok oleh kaumnya, Nabi Ibrahim AS diuji dengan kobaran api dan perintah menyembelih Nabi Ismail AS anakn  ya, Nabi Ya’qub AS bersedih atas kehilangan putra kesayangannya yakni Yusuf AS sehingga beliau mengalami kebutaan, Nabi Musa AS menghadapi kedoliman raja Fir’aun dan ujian dari kaumnya, Nabi Isa bin Maryam merasakan hidup dalam  kefakiran dan  Nabi Muhammad SAW  diuji agar bersikap sabar dalam bergaul dengan orang fakir, beliau juga mendapat ujian dari para sahabat yang menjauhinya dan  terbunuhnya Hamzah bin Abdul Mutholib dalam peperangan, dia adalah paman Nabi yang paling dicintai. Selain mereka, masih banyak diantara para Nabi dan orang-orang pilihan lainnya yang mengalami ujian hidup. Adapun kisahnya cukup panjang untuk dikisahkan. Andaikan dunia diciptakan untuk kesenangan, maka orang mukmin tidak akan mendapatkan bagian darinya. Nabi SAW bersabda :”Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” Penjara bagi orang-orang yang ta’at ada di dunia. Para Ulama dan orang-orang yang beramal saleh pernah mendapatkan cobaan. Para ulama terkenal pun  mengalami ujian hidup. Bahkan orang-orang yang jujurpun menempuh hidup diliputi kesulitan.



Wallahu A'laam Bil Shawwab

DAFTAR BACAAN

Teks asli berbahasa Arab bisa dibaca di:

Kamis, 26 Maret 2020

Hikmah dibalik Kisah

Terkadang Kesehatan Diperoleh Dari Racun

Foto: Ilustrasi.@istimewa

Pakar sejarah mengisahkan bahwa ada seorang lelaki yang terkena penyakit stroke, dia hanya bisa berdiam diri di rumah. Lelaki tersebut melewati tahun demi tahun lamanya dengan perasaan jemu dan frustasi. Disamping  itu, para dokter pun tidak ada yang sanggup mengobatinya sehingga mereka menyampaikan kabar kurang baik kepada keluarga dan anak-anaknya.

Namun pada suatu hari ada seekor kalajengking yang jatuh dari atap rumah menimpa lelaki tersebut. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kemudian kalajengking itu merayap dengan cepat menuju kepalanya dan menyengat beberapa kali hingga tubuh lelaki tersebut bergetar dari ujung kaki ke ujung kepala. Ketika itu juga tiba-tiba ada seekor ular, diapun mulai menggerakan anggota badannya kemudian mengibaskan ular tersebut. Dan ternyata setelah kejadian itu dia bisa sembuh dan kembali normal seperti sediakala.

Akhirnya lelaki tersebut bisa berdiri dan berjalan-jalan dikamarnya, diapun bisa membuka pintu sendiri lalu mendatangi keluarga dan anak-anaknya. Melihat kejadian itu, mereka hampir berteriak terkejut dan merasa tidak percaya. Selanjutnya lelaki tersebut menceritakan peristiwa yang dialaminya tadi.

Maha Suci Allah SWT yang menghendaki kesembuhan untuk lelaki tersebut!

Saya pernah menceritakan kisah ini kepada sebagian dokter lalu mereka membenarkan dan menyatakan bahwa pasien yang mengalami stroke dapat disembuhkan dengan bantuan serum yang terkandung dalam racun dan pengurangan kadar kimia. 

Sungguh Dzat yang Maha Agung lagi Maha Lembut dalam keMaha tinggian-Nya, Dia memberikan suatu penyakit disertai obatnya.

Wallahu A'laam Bil Shawwab

DAFTAR BACAAN

Buku Nushus Al-‘Arabiyah (Penyusun Asep  M. Tamam, M.Ag) diantaranya memuat kisah tsb yang tertulis dalam kitab Laa Tahzan karya Syeikh ‘Ayid Al-Qarni dengan versi Bahasa Arab

http://nasional.kompas.com/kalajengkingobatgangguanperedarandarah

http://liputan6.com/pasienstrokebisasembuhsepenuhnyaasal..